Waspada Obesitas, Jangan Diet Tanpa Asupan Gizi Seimbang, Lebih Dekat dengan Dokter Spesialis Gizi RSUD Taman Husada Bontang (1)
2 menit baca1.098 kali dibaca

2 menit baca1.098 kali dibaca

Dokter Gizi RSUD dr Wijayanto, Sp.GK kepada Korankaltim.com, Selasa (30/3/2021) kemarin menjelaskan, grade klasifikasi berat badan mulai dari terendah hingga tertinggi dibedakan menjadi beberapa kategori, diantaranya berat badan kurang, normal, overweight, berisiko, serta obesitas 1 dan obesitas 2.
Pembagian kriteria berat badan ini menentukan resiko yang akan diderita di kemudian hari. “Semakin tinggi gradenya semakin tinggi risikonya,” ujar dokter spesialis gizi di RSUD Taman Husada ini. Obesitas merupakan ibu penyakit dari kencing manis, obesitas juga merupakan bom waktu, sampai jangka waktu tertentu akan muncul efek berbahaya yang akan ditimbulkan.
Wijayanto yang ditemui di ruang poli gizi menjabarkan,obesitas resiko penyakitnya lebih tinggi, konsepnya harus gizi seimbang. “Makro dan mikro nutrient harus terpenuhi. Pengaturan pola makan juga harus sesuai dengan hasil laboratorium, kalori juga tidak boleh kurang dan tidak melebihi kalori yang saya buat,” papar Wijayanto.
Demi menghindari obesitas, banyak masyarakat yang melakukan berbagai macam diet, apalagi saat ini, tambahnya, banyak pilihan alternatif metode diet yang mudah diakses. Parahnya, banyak masyarakat yang memilih untuk melaksanakan program diet dengan metode ekstrem tanpa melalui konseling di Poli Gizi.
Mulai dari tidak mengkonsumsi nasi yang merupakan sumber karbohidrat, mengkonsumsi obat-obatan diet dan berbagai macam lainnya. Padahal melakukan diet tanpa asupan gizi yang seimbang dapat meningkatkan risiko kehilangan fokus, lemas dan kehilangan massa otot.
Menurutnya, kebutuhan jumlah kalori yang diperlukan oleh tubuh didasarkan pada perhitungan antara tinggi badan, berat badan serta IMT (Indeks Masa Tubuh). Ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan diet harus memperhatikan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Sehingga asupan gizi yang dikonsumsi pun harus seimbang.
Dokter lulusan UNDIP, yang sejak 2017 bergabung dengan RSUD Kota Bontang itu juga menjelaskan, bahwa terapi gizi untuk penurunan berat badan memerlukan proses. Beberapa pasien yang pernah ia rawat ada yang membutuhkan jangka waktu 6 hingga 8 bulan.
Berbagai proses yang harus dilewati adalah dengan mengatur pola makan, memilih jenis makanan yang dikonsumsi dan melakukan aktifitas olahraga. “Penurunan berat badan itu bonus, tetapi hasil laboratorium yang saya jadikan acuan keberhasilan. Intinya dari awal ke situ ada penurunan, terapi gizi tanpa obat,” tutup Wiyanto. (KK04/ADV/KOMINFO)
Editor: Aspian Nur







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
7 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 111 km tenggara Selayar
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG