Bagaimana tidak? Mereka akan terus bertemu, ada yang dua kali setiap minggunya ada juga yang sekali seminggu. Bahkan ada yang yang sudah menjalani perawatan hingga 8 tahun lamanya. “Serasa seperti keluarga sudah, kami juga punya grup komunitas, jadi semua informasi kami bicarakan di group itu,” ujarnya.
Dikatakan Salawati, jika tidak ada kendala Pandemi Covdi-19, biasanya mereka antara perawat dan seluruh pasien Hemodialisa sering melakukan family gathering. Ini dilakukan agar hubungan semakin akrab dan saling kenal, selain itu juga untuk memberikan rasa kepercayaan juga mendorong semangat hidup pasien.
''BAHAGIA : Pasien Hemodialisa tersenyum begitu perawat, dokter juga tim
manajemen memberikan hadiah souvenir, di Hari Ginjal 11 Maret 2021
lalu. (Foto: Arie Mayestine/RSUD BTG)''
“Karena sudah setahun ini pandemi, jadi pada saat hari Ginjal kemarin, 11 Maret, kami hanya rayakan di ruangan saja bersama para pasien. Kami bagi-bagi souvenir ke pasien, ini spontanitas saja. Biasanya kami kan gelar family ghatering, kami juga kadang gelar seminar ginjal, tapi semua tidak bisa dilakukan, tidak ada satupun kegiatan outdoor sekarang,” jelasnya kepada korankaltim.com, baru-baru ini.
Selain bagi-bagi souvenir, lanjutnya, juga diadakan lomba foto WKD (world kidney day). “Alhamdulilah mereka antusias sekali mereka, walaupun kita berikan hadiah cuma ala kadarnya, hanya bantal leher, gelas-gelas lucu dan lainnya,” kata Salawati terlihat bersemangat.
Untuk pasien yang di rawat di Hemodialisa Bontang, Salawati mengatakan, usianya bervariasi, ada yang masih 7 tahun, ada juga usia belasan yakni 16 tahun, 21 tahun, dan rata-rata pasien di atas usia 50 tahun paling banyak, ada juga yang paling tua usianya yakni 71 tahun, dan sudah menjalani perawatan 4 tahun berjalan ini.
Pada kesempatan itu, Salawati mengimbau kepada seluruh pasien Hemodialisa agar tidak putus perawatan, sebab, dengan rutin melakukan hemodialisa maka kualitas hidupnya akan semakin baik. (Adv/kk04/diskominfo)
Editor: Desman Minang