Dijelaskan Salawati, pasien yang menjalani cuci darah di ruang Hemodialisa RSUD Bontang, bukan hanya berasal dari Bontang, melainkan juga ada dari luar Bontang, yakni dari Sangatta seperti Wahau ada juga dari Sangkulirang. “Sebenarnya di Sangatta sudah ada pelayanan Hemodialisa, beberapa pasien yang dulu di rawat di Bontang yang berasal dari Sangatta, mereka ada yang beralih ke Sangatta, tapi ada juga yang masih suka ke sini,” ujarnya.
Menurut Salawati, pasien awalnya berjumlah 68 orang, tapi sejak Hemodialisa Sangatta buka, pasien yang berdomisili di Sangatta sebagian sudah diarahkan ke HD Sangatta, agar tidak terlalu jauh untuk melakukan cuci darah. “Ada 12 orang yang pindah ke HD Sangatta di RS Meloy,” jelasnya. Untuk pelayanan cuci darah, Salawati mengatakan, jika per pasien memerlukan waktu yang tidak sedikit yakni sampai 5 jam.
“Untuk pasien baru biasa 2 sampai 3 jam, kalau pasien regular 5 jam, dan ada beberapa pasien yang mendapatkan pelayanan 3 kali seminggu dengan kondisi khusus dan ada yang cukup 1 kali seminggu saja,” jelasnya. Karena proses cuci darah cukup lama, biasanya pasien didampingi keluarganya, namun tidak sedikit juga pasien yang mandiri alias datang sendiri.
Menurut Salawati, pada dasarnya pasien cuci darahnya kualitas hidupnya bagus seperti orang normal. ”Mungkin ada beberapa yang drop karena tidak sama tingkat daya tubuhnya, selain itu faktor disiplin dan kepatuhan sangat mempengaruhi. Kalau disiplin rata-rata bagus saja kondisinya,” katanya.
Bahkan lanjutnya, ada pasien yang sudah melakukan cuci darah (Hemodialisa) hingga 7 -8 tahun lamanya, dan kondisinya cukup bagus. Intinya, lanjut Salawati, pasien gagal ginjal sebaiknya disiplin dan teratur perawatan cuci darahnya, selain itu pola hidupnyapun harus sehat. (Adv/kk04/kominfo)
Editor : Desman Minang