Menurut salah seorang warga, Darma (46) air yang mengalir dalam seminggu ini kotor tak sejernih sebelumnya. Bahkan dirinya harus menggunakan bahan kimia penjernih air dan menunggu beberapa waktu sebelum air digunakan untuk mencuci dan kebutuhan lainnya.
"Coba ditanyakan ke PDAM, kenapa begitu," ujarnya kepada wartawan, Senin (15/5) kemarin.
Sebelumnya ia mengira air keruh itu berasal dari pipa miliknya, atau tempat penampungan yang kotor. Namun rupanya persoalan dirasakan juga oleh para tetangganya yang berada di sekitar rumahnya.
Tetangganya, Mama Tima sapaan akrabnya, mengaku kaget lantaran kondisi itu ia rasakan sejak dirinya dan keluarga pulang mudik lebaran empat hari yang lalu. Hal itu terjadi disetiap pagi.
"Mau cuci baju jadi harus tunggu dulu," keluhnya.
Tak hanya di Tanjung Laut Indah, rupanya hal itu juga terjadi di Kawasan Jalan KS Tubun Bontang Selatan. Dari video yang dikirimkam Nikma (44) air keruh berwarna kecoklatan nampak jelas terlihat. Bahkan ia menyamakan air tersebut mirip air sumur.
"Mirip air sumur, harus didiamkan dulu biar kotorannya turun," katanya.
Ia pun mengaku kecewa, lantaran apa yang dibayar tak sesuai dengan fasilitas yang didapatkan. Belum lagi belakangan, jumlah tarif air lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Menanggapi hal itu, Dirut Perumda Tirta Taman Bontang menampik air yang disalurkan merupakan air keruh. Pihaknya pun meminta agar warga yang mendapatkan air keruh untuk melapor langsung dan menghubungi kontak Perumda melalui whatsup dengan nomor 0821-5378-7420 atau 0548-23555.
Masyarakat bisa mencantumkan alamat lengkap dan langsung akan ditindaklanjuti oleh petugas dengan pengecekan langsung.
"Biasanya indikasinya, itu dari penampungan air kotor, atau ada perbaikan di kawasan pelanggan," jelasnya.
Tak hanya itu, ia juga membantah ada kenaikan tarif, Menurut Suramin Manajer Pemasaran Perumda Tirta Tamar Mulia Nur idari catatan akumulasi pemakaian selama tiga bulan terahir masyarakat memang harus merogoh kocek lebih dalam.
Hal itu lantaran ada idle capacity atau kelebihan kapasitas air bersih, dari Water Treatment Plant (WTP) Guntung dan Lok Tuan yang jumlahnya kurang lebih 4000-5000 liter per harinya.
“Ada kelebihan produksi air yang tidak termanfaatkan di WTP Guntung sekitar 1.300 liter, dan Lok Tuan sekitar 4.000-4500 liter per harinya,” jelasnya.
Kelebihan air inilah yang dimanfaatkan menutupi kekurangan air 200 liter per detik di area Bontang Kota, yang melingkupi Kelurahan Gunung Elai, Bontang Baru, Api-Api, Bontang Kuala dan sebagian wilayah di Kecamatan Bontang Selatan.
Selain berefek pada peningkatan distribusi air. Idle Capacity juga mempengaruhi jam operasional penyaluran, dari yang awalnya hanya 19 jam per hari. Saat ini sudah mencapai 22 jam per hari secara rata-rata.
“Kami ingin menegaskan bahwa PDAM tidak ada menaikkan tarif. Yang ada peningkatan konsumsi pemakaian air yang tidak disadari masyarakat,” bebernya.
Dari itu Mulia Nur menekankan kepada masyarakat agar berlaku lebih bijak dalam penggunaan air. Selain itu, penundaan pembayaran juga bisa mempengaruhi hal itu. Menurutnya Jangan sampai yang biasa irit jadi agak boros, yang boros jadi abai. Ketika membayar tagihan bulanan kaget dan menganggap PDAM menaikan tarif tanpa sepengetahuan mereka.
"Padahal, sekali lagi persoalannya ada pada peningkatan pemakaian airnya,” jelasnya.
Editor: Rusdianto