Kedua nama tersebut telah memiliki daya tarik kuat karena melekat dengan destinasi wisata bahari unggulan Berau. Ketika identitas tersebut diterjemahkan menjadi motif batik, promosi destinasi dapat berjalan bersamaan dengan pengembangan produk budaya.
“Identitas Derawan dan Maratua bisa membawa nama Berau ke ruang yang lebih luas,” katanya.
Peluang itu kini ingin dikembangkan lebih jauh. Disbudpar mendorong agar Batik Derawan dan Maratua tidak berhenti sebagai karya yang tampil dalam ajang nasional, tetapi berkembang menjadi produk yang diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan.
Target pasarnya pun mulai diarahkan lebih luas. Tidak hanya konsumen lokal, batik dengan identitas destinasi Berau diharapkan mampu masuk ke pasar nasional, bahkan memiliki peluang diperkenalkan kepada konsumen mancanegara.
Penguatan promosi juga mendapat dorongan dari prestasi perwakilan Berau dalam PPBN 2026. Bulqis Sastra berhasil menembus jajaran Top 6 dan mengakhiri kompetisi sebagai juara lima atau Runner Up 4.
Capaian tersebut turut memberikan ruang eksposur bagi identitas budaya Berau di tingkat nasional. Disbudpar memberikan dukungan selama proses kompetisi, mulai dari promosi melalui media sosial dan media massa, menggalang dukungan masyarakat, hingga pembekalan sebelum keberangkatan ke Jakarta.
Yudha menilai capaian Bulqis bukan sekadar prestasi personal. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi daerah melalui generasi muda. (*)