Misalnya saja di Kecamatan Kelay kekurangan 189 petani milenial, Maratua 240 orang, Teluk Bayur 257 orang, Tanjung Redeb 265 orang dan Biduk-Biduk 280 orang.
Minimnya ketertarikan para milenial dalam pertanian karena dianggap tidak ada harapan untuk maju jika bekerja di bidang tersebut. Bahkan regenerasi petani di Kabupaten Berau hampir punah. Hal tersebut disebabkan tidak adanya anak-anak milenial yang tertarik ke sektor pertanian.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau, Supriyanto mengatakan, petani milenial dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.
Sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2013 cakupan subsektor petani milenial yaitu subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan dengan usia 19 sampai 39 tahun. “Berdasarkan data tahun 2023, jumlah petani milenial di Kabupaten Berau tercatat sebanyak 9.798 orang,” ucapnya.
Kemudian, untuk petani milenial kisaran 19 sampai 39 tahun, baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi digital, ada sebanyak 7.017 orang atau 71,62 persen dari total petani di Kabupaten Berau.
Jumlah petani milenial paling banyak berada di Kecamatan Segah sebesar 1.141 orang, diikuti Talisayan sebanyak 1.036 orang, dan Sambaliung sebanyak orang.
Sementara itu, petani milenial yang berumur lebih dari 39 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 2.775 orang atau 28,32 persen dan petani yang berumur kurang dari 19 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 6 orang 0,06 persen.
“Bila dilihat dari jenis kelamin, petani milenial laki-laki mendonimasi 71,96 persen dibandingkan petani milenial perempuan yang hanya 64,71 persen,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Junaidi mengakui saat ini Kabupaten Berau mengalami penurunan kualitas pertanian. Sehingga menurutnya, regenerasi petani perlu dilakukan melihat dari usia petani yang semakin tua mengakibatkan penurunan kinerja dalam bidang pertanian.
Kegiatan pertanian memiliki peran yang sangat penting sebagai penyedia bahan pangan bagi penduduk. Selain itu, kegiatan pertanian juga berperan sebagai penyedia lapangan pekerjaan disaat penduduk tidak mampu terserap dalam lapangan usaha yang membutuhkan keterampilan khusus.
“Namun faktanya SDM untuk lapangan pekerjaan di sektor pertanian seperti kebun sawit kebanyakan penduduk pendatang dan penduduk lokal kita sendiri tidak ada ketertarikan untuk bertani,” ujarnya
Hal ini pun menjadikan perusahaan-perusahaan terutama kebun sawit lebih memilih mendatangkan penduduk luar kepulauan. Pihaknya telah berupaya mendorong generasi muda dengan program petani milenial namun program tersebut tidak berkembang.
“Karena anak-anak muda sekarang lebih tertarik bekerja perusahaan atau perkantoran secara mandiri, paling ada pendatang saja seperti dari Sulawesi, Tanah Toraja, Jawa, seperti perkebunan sawit lebih banyak pendatang orang-orang Timur,” tuturnya
Editor: Maruly Z