Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Berau, Suryadi mengatakan, kabut asap bukan hanya dari Bumi Batiwakkal saja, namun juga dampak dari luar provinsi. "Lalu masuk ke wilayah Kalimantan Timur. Kemungkinan bisa terjadi pula kebakaran hutan berasal dari Berau. Kita juga menunggu rilis dari BPBD," ungkapnya, Rabu (4/10/2023).
Berdasarkan pengukuran yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kalsel sudah masuk kategori tidak sehat. Kota Banjarmasin tercatat sebesar 169 mikrogram per meter kubik dan di Kota Banjabaru tercatat 113 mikrogram per meter kubik atau sudah berwana kuning atau tidak sehat.
Pihaknya kata Suryadi telah mengamati secara konsisten fenomena ini dalam waktu 3 hari terhadap kabut asap yang terjadi di Berau. Dirinya menjelaskan, dalam istilah meteorologi disebut sebagai smoke. Digolongkan ke dalam kelompok lithometeor. “Artinya partikel pembentuk asap merupakan partikel padat dan kering yang tidak mengandung air," ucapnya.
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan kabut asap terjadi, seperti faktor manusia yang sengaja membakar lahan atau hutan atau faktor tidak disengaja dan faktor alam karena bencana alam. Sehingga kabut asap menjadi sebuah acaman, sebab debu atau partikel halus yang ada di dalam kabut asap mudah terhisap dan mengotori sistem pernapasan.
Pasalnya, dampak yang ditimbulkan dari kabut asap akan menjadi sebuah ancaman, terutama untuk kesehatan. Bahaya yang ditimbulkan kabut asap dapat menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi dan penyakit paru kronis lainnya. “Bisa juga dari asap bersumber dari proses pembakaran baik dari kendaraan bermotor, industri hingga kebakaran hutan dan lahan.
Stasiun meteorologi Kalimarau Berau juga sudah mengamati, mencatat, menganalisa dan melaporkan kondisi tersebut secara real-time untuk keperluan take-off dan landing serta menyebarkan informasi ke publik.
Dirinya pun menegaskan sudah menyediakan informasi hotspot, FDRS (Fire danger Rating Sytem) berupa peta spasial. "Dapat kami sampaikan informasi hotspot di wilayah Berau tanggal 1 Oktober terdeteksi 9 hotpsot, tanggal 2 Oktober 8 hotpsot. Jarak pandang per 3 Oktober hingga pukul 13.00 WITA teramati antara 2.8 - 4 KM," tuturnya.
Selain itu, untuk terkait penetapan status kedaruratan BMKG Berau menegaskan bukan bagian dari kewenangannya. "Kami imbau bagi seluruh masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga kesehatan dengan konsumsi buah-buahan atau vitamin," pungkasnya.
Editor: Maruly Zainuddin