Pasangan yang mengenakan busana adat pengantin kerajaan Ampik Salayang saat pawai berlangsung sambil berjalan kaki membuat akun media sosial Facebook dengan nama Ampik Selayang Raja Alam memberikan komentar.
Adalah Datu Edy Fachriadi, pemilik akun tersebut yang juga putra dari Datu Fachruddin yang notabene anak dari Sultan Muhammad Aminuddin, Sultan terakhir di Kesultanan Sambaliung yang menegaskan busana adat Ampik Salayang harus diperlakukan dengan baik, boleh dikenakan namun tidak dengan berjalan kaki, menerima tamu, menari dan bernyanyi, sebab akan lebih elegan bila dikenakan sambil duduk di mobil atau kereta kencana dengan hiasan kuning.
Alasannya jelas, busana adat pengantin Kerajaan Sambaliung Ampik Salayang itu merupakan baju pengantin keturunan Sultan Sambaliung bukan baju adat biasa.
"Saya tegaskan Ampik Salayang itu busana adat pengantin yang sakral di Kesultanan Sambaliung atau di Keraton Sambaliung," teags Edy kepada Korankaltim.com, Selasa (22/8/2023).
Dirinya ingin maruah busana adat istiadat dapat terpelihara dengan baik dan mengedepankan cara memakai sesuai haknya sebagai busana adat pengantin, tidak untuk dibuat jalan kaki, menerima tamu, menyanyi dan menari sebab itu merupakan baju adat pengantin kerajaan Sambaliung. "Boleh memakai asal sesuai moment dan evennya," ucapnya lagi.
Edy menyebut postingan di media sosial itu tujuannya hanya ingin menggugah kesadaran masyarakat kalau busana Ampik Salayang bukan baju adat biasa dan kalau masyarakat ingin memakainya saat pawai budaya beri label busana tersebut, seperti "Busana Adat Pengantin Kerajaan Sambaliung Ampik Salayan".
Jangan menampilkan dengan berjalan kaki, bawa spanduk atau bawa payung karena itu bukan baju adat untuk semua orang Berau. Semua orang Berau tidak wajib memakai busana itu saat mereka menikah.
"Tetapi kalau keturunan Sultan Sambaliung adalah satu kewajiban saat ijab qobul upacara sakral pernikahan," ungkapnya.
Kalau pun ada masyarakat yang menggunakan busana adat tersebut namun bukan keturunan Kesultanan Sambaliung, pastinya mereka tidak memakai hiasan lengkap yang biasa dipakai seperti kida-kida, panggaw, bunga seray dan lain-lain.
Secara terpisah, Kesultanan Sambaliung Datu Amir menyatakan hal yang sama. Busana Ampik Salayang bukan untuk dipamerkan dengam cara berjalan kaki atau karnaval tapi khusus untuk pengantin di kerjaan, tidak sembarangan, sangat dihormati dan sakral untuk kerajaan-kerajaan manapun. “Makanya saya tidak setuju. Hal-hal seperti itu masalahnya pelecehan adat istiadat," ujar Amir.
Editor: Aspian Nur