Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau Thamrin kepada Korankaltim.com Jumat (23/6/2023) menjelaskan hal tersebut.
Sejak tahun 2019 hingga 2023 ini menurut Thamrin Karhutla di Bumi Batiwakkal mengalami penurunan. Data BPBD, kasus Karhutla yang tersebar di 11 kecamatan di Berau, tahun 2019 kurang lebih 1.700 hektare dan tahun 2021 terdapat 46 kasus dengan luasan 118 hektare.
Kemudia tahun 2022 ada 34 Karhutla dengan luasan 87,5 hektare dan pada tahun 2023 sejak Januari hingga Juni ini ada 8 kasus dengan luasan 13 hektare.
"Tahun 2020 kami tidak merilis tapi tidak banyak sekitar 10 kasus, karena sudah masuk musim hujan dari tahun 2016," ujar Thamrin.
Banyaknya kawasan hutan dan lahan terbuka membuat Berau rawan terjadi Karhutla teruutama saat musim kemarau. "Terkecuali Kecamatan Tanjung Redeb dan Maratua, karena tidak memiliki kawasan hutan yang rawan terbakar," jelas Thamrin.
Pemicu utama Karhutla yakni ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab membuka lahan dengan cara membakar. “"Untuk mengantisipasi kami memberikan pelatihan kepada masyarakat," sebutnya.
BPBD juga membantu masyarakat dengan memberikan peralatan untuk mengambil limbah dari pembukaan lahan yang kemudian diolah menjadi bahan yang bernilai ekonomis. "Seperti pupuk, cuka kayu dan arang itu yang kami upayakan saat ini," tutup Thamrin.
Editor: Aspian Nur