"Mereka menanyakan data pribadimu dengan berbagai modus seperti kartu kamu diblokir, ada kenaikan biaya transfer, tawaran upgrade tabungan, dan lainnya yang membuat kamu panik atau senang, dan ujung-ujungnya meminta password, PIN, OTP, MPIN, dan data pribadi lain,” jelasnya Selasa (28/6/2022).
Oleh karena itu, dirinya mengimbau masyarakat untuk kembali memeriksa keaslian nomor telepon, akun media sosial, email, dan website perbankan agar terhindar dari upaya penipuan. Masyarakat juga diminta menjaga kerahasiaan data pribadi. Jangan pernah memberikan data nama penggunaan dan kata sandi aplikasi perbankan yang dimiliki kepada siapapun, termasuk kepada oknum yang mengaku sebagai pegawai bank atau formulir undian berhadiah.
“Juga jangan memberikan nama pengguna dan kata sandi email, nomor Personal Identification Number (PIN), kode One Time Password (OTP), nomor kartu ATM atau kartu kredit atau kartu debit, nomor Card Verification Code (CVC) kartu kredit atau kartu debit, nama ibu kandung dan informasi pribadi lainnya,” tuturnya.
Kemudian, jangan melayani penipu yang mengaku petugas bank atau instansi resmi yang menanyakan data pribadi. Petugas bank yang asli tidak akan meminta data pribadi. Hal ini kerap digunakan pelaku untuk memperdaya calon korbannya. Bahkan menawarkan hadiah menarik, agar korbannya percaya.
“Pelaku biasanya menyuruh korban ke ATM terdekat. Memasukan pin. Disitulah sistem mereka bekerja,” sambungnya.
Perwira balok tiga ini mengatakan, selain itu, jangan memposting data pribadi di media sosial sepeti identitas yang tertera dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), nomor rekening, buku tabungan, nomor telepon, nama panggilan atau nama ibu kandung.
“Itu data pribadi sudah. Jadi gampang bagi pelaku untuk membobol akun kita. Usahakan menggunakan dua password,” pungkasnya.
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah