Tidak sedikit kesulitan yang harus dirinya dobrak dalam memulai, mulai dari ketersediaan pupuk hingga cara mengatasi berbagai hama dan penyakit yang menyerang tanamannya.
“Waktu itu nekat saja, sambil nanya-nanya ke teman-teman yang sudah duluan menanam. Saya meyakini kakao ini sesuai dengan kebutuhan pasar. Kakao menjadi pilihan, karena memiliki peluang yang cukup baik,” ujarnya.
Berkali-kali masa panen yang kurang maksimal ia lalui, rata-rata satu pohon hanya menghasilkan 30 buah kakao dan itu sangat jauh dari jumlah yang seharusnya. Dirinya tidak patah arah dan terus berupaya mencari solusi dari masalah yang dirinya hadapi.
Buah kesabaran yang ia pupuk dan jaga selama lima tahun menghasilkan secercah harapan, PT Berau Coal datang dan memberikan bantuan berupa program pendampingan terhadap petani kakao di Kampung Suaran pada 2010 lalu.
Ilmu yang bermanfaat terkait dengan pengolahan kakao dari masa penanaman, panen, pasca panen hingga pemasaran ia dapatkan. Bahkan, kelompok tani kakao juga dibentuk, yang mana saat dirinya memulai kebun kakao pada tahun 2005 lalu, belum ada satupun kelompok tani kakao.
“Dari pendampingan itu, kami mendapatkan bimbingan secara rutin setiap bulan oleh tim Berau Coal. Dengan menyampaikan berbagai arahan kepada petani, khususnya tentang pemeliharaan perlakuan sebelum hingga masa panen,” jelasnya.
Metode perawatan yang diberikan mulai ia terapkan di lahan miliknya, tidak kenal lelah satu per satu pohon mulai ia lakukan metode temple atau stek. Saat masa panen tiba, hasil yang dinanti mulai terlihat, terdapat perbedaan mencolok dari metode yang sebelumnya ia gunakan dengan yang telah diajarkan dalam program pelatihan PT Berau Coal.
Setelah mengikuti arahan yang diberikan pihak Berau Coal, dan menerapkannya langsung di kebun kakao miliknya, hasilnya pun mulai terlihat. Perbedaan paling mencolok adalah, dalam menanam kakao, dilakukan dengan metode tempel atau stek.
Jika dahulu dirinya menanam kakao tanpa menggunakan metode stek, buahnya hanya berkisar 30 buah per pohon. Kini dengan menggunakan tempelan atau stek, jumlah per pohon mencapai 300 buah.
“Itu sudah pernah dihitung. Tidak hanya menambah jumlah buah, tetapi juga menambah kualitas buah serta biji kakao yang dihasilkan juga lebih padat. Kalau kita mempertahankan perlakuan dengan cara yang lama, tidak akan maksimal buahnya,” katanya.
Keberhasilannya pun menginspirasi warga lainnya, jumlah petani kakao kini meningkat dan beberapa kelompok tani lainnya mulai terbentuk. Yang mana sebelum adanya pendampingan dari Berau Coal belum ada kelompok tani, kini sekarang sudah ada 3 kelompok tani di Suaran, yakni Kelompok Tani Mekar Jaya I, Kelompok Tani Mekar Jaya II, dan Kelompok Tani Mekar Jaya III.
Lelaki nekat yang kini telah berubah menjadi lelaki penginspirasi merasa apa yang telah dilakukan PT Berau Coal seperti mengadakan bimbingan gratis, bantuan pupuk, dan bahan antisipasi hama dan penyakit kakao sangat membantu masyarakat kampung khusunya bagi mereka yang berprofesi sebagai petani kakao. Hasil panen dengan kualitas dan kuantitas maksimal telah dirasakan banyak petani berkat bantuan PT. Berau Coal.
“Petani juga mendapatkan harga yang layak sesuai dengan kualitas buah dan biji. Apalagi pasarnya kami dibantu oleh Berau Coal juga. Hasilnya sangat memuaskan,” tandasnya.
Sementara itu, Muhammad Khodim selaku Head of Cacao Busines Unit PT Berau mengatakan, Berau Cocoa yang merupakan bagian dari program CSR Berau Coal, melakukan pendampingan petani kakao serta bekerja sama dengan beberapa pihak, salah satunya Dinas Perkebunan Berau maupun di Provinsi Kalimantan Timur.
Ada juga beberapa pihak lainnya yang digandeng, yakni Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember. Dari sana, pihaknya meminta rekomendasi bibit kakao unggul, dan supervisi bagaimana berkebun kakao dengan baik.
“Kami juga memberikan jaminan pasarnya. Jadi produk panen dari petani, setelah lulus standar baik dari bibit, dan pengeolahan kebunnya, maka hasilnya pun sudah pasti sesuai standar,” katanya.
Berau Cocoa dijelaskan, hanya mendampingi dalam hal pasca masa panen. Jadi biji kakao yang selesai dipanen, tidak langsung dijemur. Melainkan dilakukan beberapa proses, salah satunya dilakukan fermentasi.
“Mereka juga diberikan bimbingan cara memetik buah yang baik, memecah buah yang benar, dan hal lain setelah panen, agar memperoleh hasil akhir yang maksimal dari sisi kualitas,” tuturnya.
Berau Coal juga memberikan bantuan bibit kakao. Yang mana dalam prosesnya, bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Berau untuk memetakan kelompok tani mana saja yang layak mendapatkan bantuan bibit. Apakah termasuk kelompok tani yang aktif atau tidak.
“Tidak sembarangan juga. Karena jenis bibit juga harus menyesuaikan dengan kondisi dan luas lahan yang ada. Kelompok taninya juga diverifikasi, memenuhi syarat atau tidak. Seperti administrasi, lahannya di mana, dan lain sebagainya,” katanya.
Diharapkannya ke depan, melalui pendampingan yang dilakukan Berau Coal, dapat membangun suatu ekosistem kakao yang berkelanjutan. Apalagi saat ini, Berau Cocoa tidak hanya menjangkau pasar dalam negeri, melainkan juga pasar luar negeri, khususnya Eropa. Terlebih kakao berau saat ini telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis.
“Harapan kami kedepannya, dengan kita berkolaborasi dari hulu sampai hilir, dari pembibitan sampai dengan panennya, petani-petani kakao ini dapat lebih bersemangat agar kesejahteraan ekonomi melalui kakao ini dapat tercapai,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini memberikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan Berau Coal kepada para petani juga koordinasi rutin yang selama ini dijalankan bersama Dinas Perkebunan.
“Apa yang dilakukan Berau Coal lewat program Berau Cocoa, memberikan dampak yang lebih kepada petani kakao. Karena ada hasil jual yang meningkat dan tentunya kesejahteraan masyarakat ikut meningkat. Itu tak lain karena adanya pendampingan dari PT Berau Coal yang secara konsisten dan terus berkomitmen membantu masyarakat,” tutupnya. (Adv)
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Supiansyah