Mariama berdagang sejak tahun 1996, dari era krisis moneter hingga pandemi Covid-19 telah dilaluinya.
“Awalnya saya berdagang di kantin SMA sampai tahun 2017 memutuskan berhenti dan fokus berjualan di Tepian Sambaliung,” kata Mariama kepada Korankaltim.com Kamis (3/3/2022) hari ini.
Sang suami terkasih lebih dahulu meninggalkan dunia, serta jatuh bangun dunia usaha telah dilaluinya, namun, tuntutan ekonomi memaksanya agar tidak menyerah dan berpangku tangan.
Ibu tujuh anak tersebut melihat ada peluang usaha di Tepian Sambaliung, makanya tetap dilanjutkan.
Semangat berjualan untuk membiayai anak-anaknya sekolah membuat semangatnya terus terpacu. Sejak subuh Mariama mempersiapkan jualannya, mulai dari nasi kuning, nasi goreng, soto hingga mi rebus dan mi goreng.
Aneka es dan minuman botol juga dipajangnya. Buka sejak pukul delapan pagi hingga dua belas malam.
“Alhamdulillah, anak-anak saya semuanya berpendidikan. Ada juga yang sudah sarjana,” paparnya.
Mariana jadi yang pertama berdagang di tepian tersebut, merasa bersyukur karena tempat yang dahulu sepi kini menjadi sentra UMKM.
“Setiap hari ada saja yang beli. Sekarang tambah ramai jadi menambah penghasilan juga,” jelasnya.
Diakuinya, saat ini pemandangan sepanjang Tepian Basuli di Kelurahan Sambaliung lebih indah dengan adanya bantuan rombong dari PT Berau Coal. Suasana lebih nyaman dilihat, karena bentuknya seragam dan berwarna.
Membuat banyak orang terpancing berdagang sehingga semakin banyak orang juga yang tertarik untuk berkunjung ke Tepian Basuli. Bahkan, rombong sudah diberi izin menetap di tempat. Tetapi, tidak permanen.
“Kalau dulu setelah selesai jualan, rombong tidak boleh ditinggal di tempat. Sepanjang tepian harus bersih lagi. Sekarang, tidak perlu lagi memindah-mindahkan rombong. Tetapi, tetap menjaga kebersihan dan terpenting prokes ketat,” terangnya
Mariama sangat berterima kasih kepada PT Berau Coal karena telah memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk menerima bantuan rombong tersebut. Mariama bersyukur semakin dipermudah dalam berdagang. Ia berharap, semakin banyak orang yang dapat merasakan keberadaan perusahaan ini.
“Terima kasih atas kerja sama dan perhatiannya kepada kami para pedagang. Rombong yang diberikan memberi kami banyak kemudahan dalam berdagang. Mudah-mudahan semakin banyak bantuan lainnya,” kata Mariama.
Terpisah, Lurah Sambailung Didi Mulyadi mengakui, ramainya Tepian Basuli saat ini tentu saja meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku UMKM yang berjualan. Berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat yang meningkat juga.
“Sangat luar biasa ya peningkatan penghasilan mereka, dengan banyaknya pengunjung yang datang,” ujar Didi.
Adanya bantuan rombong dari PT Berau Coal, membantu pihaknya sebagai aparat pemerintahan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang ingin membuka usaha tapi terkendala tempat. Bantuan yang diberikan disalurkan dengan baik dan tepat sasaran.
“Menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk menyangga hidup,” ucap Didi lagi.
Didi berharap, kerja sama baik dengan PT Berau Coal ini dapat terus berjalan, karena dampaknya dinilai sangat bermanfaat untuk masyarakat. Selaku pihak kelurahan, dia selalu menjalin silaturahmi dengan mengedepan komunikasi.
Peran perusahaan merupakan keharusan. Terima kasih karena sudah mewujudkan harapan kami,” ucapnya.
Sementara itu, Community Development Manager PT Berau Coal, Hikmawaty menuturkan, selain bantuan 30 rombong pihaknya juga membantu melengkapi fasilitas prokes bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau dan kelurahan. Seperti, pembagian masker, hand sanitizer, apron, toilet umum hingga tempat sampah.
“Kami tentu bersyukur, dukungan rombong UMKM yang kami beri bernama Berau Cipta Usaha hampir setahun telah berjalan dan bantuan benar-benar bisa ber-impact kepada income masyarakat,” tutur Hikmawaty.
Konsep program pengembangan masyarakat PT Berau Coal juga mendorong untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Memperhatikan dari segi kesehatannya juga. Untuk itu, ke depan pihaknya akan melakukan pengelolaan limbah yang dihasilkan para pedagang. Seperti, air hasil cucian jangan sampai dibuang ke sungai. Tapi, perlu dinetralisir agar aman saat dibuang ke sungai.
“Dengan berbagai teknologi kualitas air cucian akan dibuat sama dengan air sungai. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk membantu agar jangan sampai potensi wisata menjadi beban lingkungan,” pungkas Hikmawaty. (Adv)
Penulis : Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur