Untuk memenuhi kebutuhan listrik di siang hari, biasanya Raspi harus merogoh kocek untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) berupa solar untuk genset yang dimiliknya karena kampungnya, sama sekali belum ada aliran listrik.
“Jadi kami pakai dinamo atau genset itu. Sebenarnya kapan nyala listrik itu tergantung kemampuan kami membeli minyak,” paparnya.
Sehari-harinya, Raspi harus merogoh kocek hingga Rp20 ribu untuk membeli dua liter solar yang setiap liternya dibanderol dengan harga Rp10 ribu. Dua liter solar yang dibeli dengan uang pribadinya tersebut hanya mampu menerangi rumahnya selama empat jam. “Biasanya dari jam 6 sore, sampai jam 10 malam. Tapi memang tergantung kemampuan lagi,” paparnya.
Tak hanya listrik, Raspi pun belum merasakan aliran air bersih di rumahnya. Pihaknya harus mengandalkan air hujan untuk bisa memenuhi kebutuhan. Jika cuaca panas melanda wilayah Pulau Maratua, maka Raspi pun harus kembali menyisihkan kocek untuk membeli air bersih dari kampung sebelah. “Dari pulau lain, pakai profil tank (tandon) itu Rp125 ribu setiap tandonnya,” sambung Raspi.
Untuk air bersih, Raspi mengakui sudah ada peran serta pemerintah di dalamnya. Seperti misalnya bantuan dari Pemprov Kaltim untuk pengadaan tandon-tandon sebagai tampungan air di rumah-rumah warga di Kampung Teluk Alulu. Namun ia berharap ada penanganan jangka panjang agar warga di Pulau Maratua, khususnya di Kampung Teluk Alulu bisa merasakan air bersih yang mengalir. “Tapi memang pernah kami coba bor, untuk sumur tidak bisa. Airnya asin,” tutup Raspi.
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Aspian Nur