Nasib baik untuk Ar karena diselamatkan keluarga dan warga setelah terlihat di permukaan sungai.
Kejadian bermula saat digelarnya acara syukuran panen padi, diikuti enam orang turun ke sungai.
Setelah semua naik, Ar kembali ke sungai untuk mencuci tangan. “Saya dan beberapa orang lainnya telah naik dari sungai, namun beliau masih di sungai untuk mencuci tangan,” kata Akbar, kerabat Ar kepada korankaltim.com Senin, (31/5/2021) kemarin.
Saat diterkam buaya, Ar ditarik ke dalam sungai dan tenggelam beberapa menit namun timbul kembali dangan hanya kelihatan bagian punggung.
Ar sempat melakukan perlawan dan mencoba ke tepi sungai Bakil. “Buaya sempat melepas gigitanya di tengah sungai, beliau langsung berenang ke tepi tapi kakinya ditarik lagi, Alhamdulillah dapat terlepas,” paparnya.
Pergelangan tangan Ar lepas akibat saling tarik menarik antar buaya dengan kelurga dan warga sekitar. Kondisi Ar juga masih sadar dan terus berupaya lepas dari gigitan buaya. “Setelah lepas dari gigitan buaya beliau langsung dibawa ke Puskesmas,” jelas Akbar lagi.
Ar mengalami luka di bagian kaki dan tangan sebelah kanan dan dibawa ke Puskesmas selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Rifai untuk dioperasi.
Buaya muara Crocodylus porosus yang menggigit Ar merupakan satu dari tiga jenis buaya yang tersebar di Kalimantan. Sejak dilindungi oleh pemerintah Indonesia, selama lebih dari 35 tahun belum pernah dilakukan kajian kondisi populasinya di alam. Provinsi Kalimantan Timur memiliki kasus konflik manusia dengan buaya paling tinggi di antara 34 provinsi yang ada di Indonesia.
Penulis: */Tri Romadhoni
Editor: Aspian Nur