"Yang ingin kami tegaskan informasi yang mengatakan banjir terjadi yang disebabkan jebolnya tanggul di PT. RUB itu keliru. Juga dengan video yang beredar yang memperlihatkan banyak alat berat terendam banjir tidak benar dan bukan terjadi di PT RUB," ungkap Jimmy.
Ia melanjutkan, saat jebolnya tanggul pada Minggu (16/5/2021) lalu, tidak ada korban jiwa maupun alat berat yang terjebak di dalam banjir. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, sebelum terjadinya tanggul jebol, manajemen perusahaan telah membentuk tim gabungan antara PT RUB dan PT PPA untuk melakukan observasi dan menjadi peringatan dini bagi pekerja.
"Pasca kejadian tersebut, saat ini kami melakukan koordinasi dengan instansi terkait khususnya DLHK untuk menguji kandungan air apakah masih aman bagi masyarakat," jelasnya.
Dirinya menjelaskan, banjir terjadi dikarenakan hujan deras di hulu Sungai Kelay dan Sungai Segah, pada Kamis (13/5/2021) lalu yang membuat debit meningkat hingga mengakibatkan bencana banjir di 14 kampung di empat kecamatan.
Dampak banjir tersebut dikatakannya, membuat tanggul di sekitar void tambang yang dikerjakan kontraktor PT RUB yakni PT PPA jebol karena tidak mampu menahan tekanan banjir.
"Jadi bukan air dalam tambang yang keluar ke sungai, melainkan air sungai yang ke dalam tambang. BPBD juga mengkategorikan kejadian yang menimpa PT RUB merupakan bencana alam," jelasnya.
Sementara terkait pembuangan air sungai yang masuk ke areal tambang. Diakui Jimmy tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh proses yang cukup panjang dengan pengawasan ketat. Menurutnya, ada beberapa cara yang dilakukan agar air yang dikeluarkan sudah memenuhi baku mutu lingkungan sesuai dokumen lingkungan yang ada. Seperti melakukan kajian teknis kandungan air di pit tambang, serta kajian ekonomi.
"Kajian itu juga akan disampaikan kepada kepala inspektur tambang dan DLHK Berau. Jika masih bernilai ekonomis akan dilakukan pemompaan dengan catatan baku mutu air terpenuhi," ujarnya.
Ditempat yang sama, Kepala DLHK Berau Sujadi mengatakan, musibah banjir yang terjadi beberapa hari lalu merupakan banjir terbesar dalam 10 tahun terakhir.
"Bahkan, tanggul juga sudah diperbesar dan dipertebal untuk memperkokoh pit tambang, namun karena tingginya banjir membuat tanggul tetap jebol," ungkapnya.
Ia menyampaikan, pihaknya sudah selesai melakukan uji sampel air baik yang ada disekitar tanggul maupun di sungai yang adai di wilayah hulu dan hilir PT RUB.
"Berdasarkan hasil analisa kami, kandungan air di Sungai Kelay dan Segah masih aman. Dan pemeriksaan kandungan air itu akan diperiksa secara berkala. Adapun gatal-gatal yang diderita sejumlah warga yang terdampak banjir bukan karena PT RUB," terangnya.
Kendati demikian, DLHK juga meminta kepada PT RUB dan mitra kerjanya agar tanggul tersebut segera ditutup, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.[]
Penulis : Tri Romadhani
Editor : Rusdi