Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono melalui Kepala Bidang Data Carolina Meylita menyebutkan sistem tekanan rendah tersebut dapat berkembang menjadi siklon tropis dengan dampak tidak langsung ke wilayah Kaltim.
“Jika siklon terbentuk, pola angin di Kalimantan Timur akan mengalami belokan dan melambat, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujar Carolina saat ditemui Korankaltim di kantornya Kamis (5/2/2026).
BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Paser, serta Kota Samarinda, Bontang dan Balikpapan dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Bibit siklon umumnya memiliki masa hidup sekitar tiga hingga lima hari. Sistem ini cenderung melemah saat melintasi daratan Filipina, namun dapat menguat kembali saat berada di perairan terbuka. Selain hujan ekstrem, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah kenaikan tinggi gelombang. Di perairan Kalimantan Timur, gelombang diperkirakan dapat mencapai 1,25 meter, sementara di perairan terbuka bisa mencapai 2 meter.
BMKG memastikan hingga saat ini belum terdeteksi potensi banjir rob di wilayah pesisir Kalimantan Timur. Namun, kombinasi hujan lebat dan angin kencang tetap berpotensi meningkatkan gelombang secara tiba-tiba.
Secara garis besar, Kalimantan Timur masih berada dalam musim hujan pada Februari dan diperkirakan mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau pada April hingga Mei.
"Untuk potensi angin puting beliung, BMKG menyatakan masih relatif rendah di wilayah daratan, namun kewaspadaan tetap diperlukan terutama di wilayah perairan," pungkasnya.
Editor: Aspian Nur