Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Balikpapan, Rasmid, menyebut gerhana bulan tersebut berpotensi berdampak pada pasang surut permukaan air laut.
“Jadi pada dasarnya, ini bisa membuat permukaan air laut pasang,” kata Rasmid saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Minggu (7/9/2025).
Menurut Rasmid, hal itu disebabkan gaya tarik bulan terhadap permukaan air laut di muka bumi. Hal ini, tentunya juga bisa berpotensi menimbulkan banjir rob atau banjir yang disebabkan pasangnya permukaan air laut.
“Untuk dampak lain tidak terlalu signifikan. Bila di wilayah daratan kebetulan sedang hujan, bisa menimbulkan genangan di daerah rendah,” tambahnya.
Rasmid menjelaskan, puncak gerhana akan berlangsung sekitar pukul 01.30 WITA hingga 02.11 WITA, dengan total durasi gerhana dari fase awal hingga akhir mencapai lebih dari 5 jam.
Menurut BMKG, proses gerhana bulan total ini dimulai sejak pukul 23.26 WITA saat fase gerhana sebagian mulai terlihat, lalu memasuki fase total pada pukul 01.30 WITA, dan gerhana berakhir sekitar pukul 04.56 WITA.
Fenomena ini dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang. Namun, penggunaan teleskop akan membuat tampilan lebih jelas.
“Bulan akan tampak berwarna kemerahan karena sinar matahari yang melewati atmosfer bumi terhambur, lalu diteruskan ke permukaan bulan,” jelas Rasmid.
BMKG menyebut seluruh wilayah Indonesia berkesempatan menyaksikan fenomena alam langka ini, termasuk Balikpapan jika kondisi cuaca mendukung.
Editor: Erwin