Terkait peduli stunting ada dua pola yang diterapkan yakni upaya penurunannya dan pencegahan. Untuk anak sekolah sangat penting dalam upaya pencegahan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya ini.
"Karena mereka yang akan menghasilkan anak-anak setelah menikah dan malahirkan. Ini merupakan program preventif yang luar biasa di Kaltim," bebernya.
Bersama Boni hadir pula Direktur Kerjasamana Pendidikan Kependudukan Edi Setiawan, Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Kaltim Sunarto, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA Disdikbud Kaltim Mispoyo, dan tamu undangan lainnya.
Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun komunikasi dan edukasi informasi agar pelajar paham dan peduli. "Sehingga ketika mereka berencana menikah sudah tahu dan bisa terhindar dari kelahiran stunting," bebernya.
Terpisah, Mispoyo mengatakan mereka menyambut baik berdirinya KPPS karena mendapatkan dukungan dari BKKBN RI.
"Hampir 97 sekolah yang telah melakukan sosialisasi dan pencegahan stunting. Dalam sosialisasi ini juga melibatkan orangtua murid. Hampir 57 ribu pelajar terlibat dalam sosialisasi di sekolah-sekolah," bebernya.
Kepala Sekolah SMA 2 Balikpapan Ririn Fridayati menambahkan, pihaknya menyambut baik program dari BKKBN tersebut. Dia berharap ini bisa menjadi motivasi untuk melaksanakan program pemerintah. "Sehingga anak-anak menjadi sehat dan cerdas," ucap Ririn.
Penulis: Laeko
Editor: Aspian Nur