"Penurunan lebih dari 50 persen atau 50 pengunjung sehari. Biasanya di atas 100 pengunjung. Pendanaan juga pasti terdampak karena kan berasal dari donasi pengunjung," kata Nunik, Jumat (4/6/2021).
KWPLH sebenarnya tidak menyediakan tiket masuk bagi pengunjung yang ingin melihat langsung beruang madu. Hanya saja telah ditempatkan kotak donasi.
"Pengunjung bisa menyumbang sukarela dari situ," sebutnya.
Selain pada kotak donasi, ada pula sumbangan dari luar negeri yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Termasuk yang diberi wisatawan asing secara langsung karena peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Donasi yang terkumpul dimanfaatkan untuk pengadaan pakan dan obat-obatan yang dalam setahun bisa menghabiskan Rp360 juta. "Berat untuk memenuhi itu," ungkapnya.
Dirinya berharap perusahaan yang ada di Balikpapan dapat berkontribusi guna kelangsungan KWPLH. Mengingat cukup banyak korporasi yang berhubungan dengan hutan.
"Seperti perusahaan tambang, bisa bantu karena biayanya tak sedikit. Kita ngos-ngosan. Harapannya ada kerja sama berkelanjutan," tuturnya.
Bahkan Pemerintah Kota Balikpapan tidak menganggarkan demi pelestarian beruang madu. Meski hewan mamalia bernama ilmiah Helarctos Malayanus itu merupakan maskot kota ini.
"Fasilitas memang sangat memprihatinkan. Tidak ada suntikan dana. Dari pemkot memang tidak ada anggaran. Ini semua dari donasi," terangnya.
Sementara Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menyatakan seluruh kawasan hutan lindung berada di bawah dinas kehutanan provinsi. Sehingga pemkot tidak berwenang membiayai.
"Dari provinsi belum ada dana, sedang diupayakan," tandasnya.
Penulis: Hendra
Editor : Bambang Irawan