Herry Wijaya (37) menyebutnya lapak Abadan. Tempat ia bersama beberapa rekannya mengolah sampah menjadi bahan bakar. Merupakan proyek Balikpapan Energi Baru dan Terbarukan (Beter).
Tapi pengolahan sampah tak ia kerjakan saat itu. Walau tumpukkan sampah plastik tampak menggunung di luar lapak.
Herry lebih mengawasi tugas dua orang tukang yang merenovasi lapak berukuran 13 meter persegi.
Pria kelahiran Banjarmasin pada 4 April 1983 silam ini menceritakan awal mula ketertarikan mengolah sampah menjadi bahan bakar energi.
“Sebetulnya semua material, mau itu pasir, karton atau plastik, kalau tidak ada unsur karbondioksida pasti ada hidrogen,” katanya memulai kisah. Sesekali terdengar suara tukang bekerja. Layaknya musik pengiring cerita.
“Tinggal bagaimana mengolah, merekayasa, mau dipanaskan kah. Istilahnya banyak, ada gastifikasi, macam-macam,” lanjutnya.
Karbondioksida dan hidrogen ketika diolah menjadi senyawa hidrokarbon sebagai rantai awal energi. “Saya menyebutnya dimasak,” ucapnya.
Berbagai jenis plastik hingga minyak goreng bekas atau jelantah sebagai bahan baku ia terima dari warga sekitar lapak. Ada pula pemulung yang rutin mengantarkan sampah ke Abadan.
“Saya masak pakai penanak sampah,” ungkapnya sembari menunjuk sebuah drum berwarna hitam pekat dan telah dimodifikasi sedemikian rupa.
Ide awal membuat penanak sampah ketika Herry ke dapur dan melihat rice cooker alias penanak nasi. Menjadi inspirasi ketika dibenaknya muncul pertanyaan.
“Apa jadinya kalau material lain saya masak?,” tuturnya. Herry lantas mencari dasar ilmu dan percobaan-percobaan orang lain sebagai sumber referensi.
“Dulu coba pakai kaleng, terus pakai drum. Alhamdulillah, nekat ikut pameran di Mal Pentacity BSB (Balikpapan Super Block). Kalau nggak salah akhir 2019 atau awal 2020,” ungkapnya dan pameran itu digelar oleh Forum Kreatif Usaha Sama-Sama (Fokus) Balikpapan.
Drum itu disebutnya Waste Cooker yang apabila diisi sampah organik kemudian dimasak dengan temperatur dan tekanan khusus akan menghasilkan dua jenis material. Gas sintetis dan arang.
“Gas sintetis harus didestilasi lagi dengan metode pirolisis. Kalau arangnya kami cetak jadi briket, biomassa untuk memasak. Bila diisi plastik, ya keluar minyak nafta (naphtha), sekelas minyak tanah yang juga untuk memasak,” jelasnya.
Walau pernah ikut pameran, keinginan usaha yang dikenal sosiopreneur tak berhenti. Pria yang telah beristri dan memiliki dua anak ini terus mempelajari berbagai referensi dari berbagai negara.
Mulai Singapura hingga Jepang dan Swedia kendati ia belum pernah ke luar negeri. “Ya belajar dari internet juga media sosial. Pengelolaan sampah paling bagus itu di Swedia. Di sana, listrik pun dari sampah,” kisahnya.
Ambisi lahir. Melalui lapak Abadan, Herry ingin menjadikan sampah sebagai sumber energi. Ia bercita-cita membuat pembangkit listrik 1,5 MW yang mampu mengaliri setrum bagi satu kecamatan.
“Itu keinginan saya terbesar. Apalagi sampah saat ini sudah menjadi masalah sosial. Harus dikelola,” kata Herry menekankan.
Minatnya dalam ilmu kimia dirasakan sejak SMA. Herry yang kental logat suku Banjar dan pernah menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan asing penyedia jasa pertambangan di Indonesia ini melanjutkan hasratnya.
“Dari pola sosiopreneur ini saya dapat jurnal literasi, saya pelajari dan implementasikan skala kecil. Dalam konsep sirkulasi ekonomi, material itu “diperkosa” sampai habis sama sekali. Tak bersisa,” tuturnya.
Literatur diperolehnya dari lembaga swadaya masyarakat (NGO/Non Government Organization) seperti Greenpeace setelah membangun jejaring di media sosial.
“Pesan mereka, ilmu ini tidak boleh untuk masyarakat, harus bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Herry lalu mengambil jelantah. Dia mempraktikan cara mengolah minyak goreng bekas itu menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Diawali dengan menyaring dan memanaskan minyak goreng bekas hingga dikisaran suhu 60 - 70 derajat celcius.
“Dicampurkan ethanol atau methanol (sejenis alkohol) dan soda api. Takarannya kalau secara rerata alkohol 200 ml, soda api 4 gram untuk 1 liter jelantah,” terangnya.
Setelah itu jelantah yang ia panaskan tadi dicampur dengan alkohol dan soda api. Bahasa ilmiahnya tetrafikasi.
“Ini diendapkan. Kalau minyaknya bagus, 1 jam terjadi reaksi pemisahan. Paling bawah gliserin bisa untuk bahan baku lilin. Di tengah gliserol, di atasnya itu jadi FAME yang diminta Pertamina agar disertifikasikan,” sambungnya.
Ya, sosiopreneur ini telah memantik minat Pertamina melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Sepinggan untuk memberi dukungan. Berupa edukasi hingga peralatan.
“Akhirnya dikolaborasikan dengan proyek Beter dari Pertamina. Saya dipesani, proyek ini harus berdampak terutama pada masa Covid-19 sekarang. Dimana pendapatan UMKM lagi turun,” imbuh Herry sambil mengocok campuran minyak jelantah untuk dijadikan FAME.
Tak jera rugi. Walau disadari menggeluti usaha ini penuh risiko. Tak berbilang kendala yang dirasakan. Baginya, masyarakat mesti diedukasi agar sadar akan pengelolaan sampah. Begitu pula dengan kalangan milenial.
“Makanya saya melakukan pendekatan melalui komunitas. Kan Kalau terlihat berhasil, baru orang percaya,” tuturnya.
Kini dari kalangan milenial, sudah ada 12 orang mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang mempelajari sosiopreneur yang dijalakannya. “Sekarang mereka KKN, mencoba improvisasi sampah menjadi barang bernilai jual,” tambahnya.
Lapak Abadan butuh pengembangan seperti mesin FAME termasuk desain kemasan produk yang lebih ekonomis. Pasalnya dengan peralatan sederhana saja, Herry mampu memberikan bahan bakar untuk 2 sampai 3 rumah.
“Saya tetap menjaga produktivitas, caranya dengan mengembangkan alat yang akhirnya mendapat dukungan dari Pertamina,” imbuhnya.
Terlebih lapak Abadan mampu memberikan pemasukan bagi warga sekitar. Tentunya dari sampah rumah tangga yang diserahkan dengan harga tertentu.
“Minyak jelantah per liter Rp3.000, plastik Rp2.000 sampai Rp6.000 per kilogram tergantung jenis. Nah, yang Rp6.000 itu kelasnya HDPE seperti jeriken,” katanya menyebut harga dengan jargon bayar pakai sampah, sedekah pakai sampah, pintar pakai sampah dan sehat pakai sampah.
“Alhamdulillah, 2019 sudah bisa bantu bangun musala dan rumah singgah bagi para tukang serta pengecoran jalan yang dikerjakan bersama masyarakat. Profit untuk menjawab masalah sosial,” pungkas Herry Wijaya.
Pada kesempatan itu, hadir pula dua orang dari tim dari Community Development Officer DPPU Sepinggan. Salah seorang bernama Joko Setiawan yang pertama kali bertemu Herry Wijaya sang pengelola lapak Abadan saat pameran.
“Sebelumnya kami punya binaan di Lapas yang ikut pameran, di sana pertama kali ketemu Herry yang mendemonstrasikan sampah jadi arang,” kata Joko mengisahkan.
Pertamina merasa tertarik dengan alat milik Abadan karena belum pernah ada di Balikpapan. “Akhirnya kami bangun komunikasi untuk mengetahui apa saja yang dilakukan di lapak Abadan,” sambungnya.
Ketertarikan itu semakin mencuat ketika mengetahui lapak Abadan bisa mencoba membuat produk biodiesel. Lantas Pertamina memberi dukungan dengan target capaian.
“Intinya meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi, termasuk kami dorong produksi biodiesel dari Abadan untuk diuji laboratorium,” beber Joko dan Pertamina turut mendukung pembuatan energi listrik berbahan dasar sampah.
“Karena program kami tak sekadar charity (amal), tapi lebih ke pemberdayaan. Merencanakan dan memberikan pendampingan hingga 5 tahun,” tuturnya menjelaskan.
Sampah adalah satu masalah besar yang paling dirasakan masyarakat kota besar. Abadan mencoba menjawab tantangan tersebut.
“Kami dorong (Abadan) agar membantu menjadi kota zero waste atau bebas sampah, dan seperti ini memang belum ada di Balikpapan,” serunya.
Pertamina mengalokasikan biaya Rp260 juta untuk Abadan tahun ini. Digunakan untuk pengadaan alat pembuat biodiesel, pembuat FAME, pembuat charcoal atau serbuk arang dari sampah.
“Juga untuk pengadaan mesin press dan pembenahan lokasi. Memang (anggaran) belum terserap semua. Masih berproses,” ujar Joko mengungkapkan.
Selain itu, DPPU Sepinggan membentuk Beter Shop sebagai satelit dari Pandora (Pusat Industri Daur Oelang Rumahan) yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
“Pandora adalah sentra, Beter Shop itu satelit-satelit yang menerima langsung sampah-sampah dari masyarakat sekaligus sebagai tempat edukasi,” terangnya.
Bahan bakar fosil sudah awam diketahui tak bertahan lama karena bukan sumber daya yang dapat diperbaharui. Maka dibutuhkan sumber energi nonfosil sebagai alternatif atau pengganti.
Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah membuat sub holding atau anak perusahaan. Namanya PT Pertamina Power Indonesia.
“PPI yang mengelola energi terbarukan bersumber panas bumi, energi matahari sampai biodiesel dari sawit,” tandas Joko Setiawan.
Penulis : */Hendra
Editor : Bambang Irawan
*Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Senin tanggal 19 Oktober 2020