Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara JICA Kyushu Center Japan dan JICA Indonesia, atas rekomendasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Diktisaintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. UNMUL menjadi satu dari 12 perguruan tinggi negeri di Indonesia yang mendapat kehormatan mengikuti program prestisius tersebut, bersama ITB, UGM, UNDIP, Universitas Brawijaya, dan lainnya.
Abdunnur menjelaskan, program ini membuka peluang besar bagi UNMUL untuk memperkuat riset tropis dan mendorong inovasi berbasis kemitraan industri-akademik-pemerintah dengan mengembangkan model kerja triple helix yang konkret.
“Di mana kampus, industri, dan pemerintah daerah bersinergi menghasilkan inovasi nyata bagi pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Selama di Jepang, para pimpinan perguruan tinggi peserta melakukan kunjungan dan diskusi strategis di berbagai universitas ternama seperti Kyushu Institute of Technology, Kumamoto University, Tohoku University Sendai, Tokyo University of Science, hingga Sophia University Tokyo. Tak hanya itu, interaksi juga terjalin dengan industri dan lembaga riset unggulan seperti Yaskawa Electric Corporation, Kitakyushu Robotics and DX Innovation Center, hingga Nano Terasu Center Tohoku–Sendai.
Menurut Abdunnur, pengalaman tersebut menjadi momentum penting bagi UNMUL untuk menyiapkan proyek kolaboratif berskala internasional. Sebagai tindak lanjut, pihaknya tengah mematangkan rencana pembangunan “The Research Innovation Center of Science and Techno Park for Tropical Studies”, yang akan menjadi pusat riset unggulan di tiga kawasan strategis Kaltim: KHDTK Lempake (KRUS) Samarinda, Tahura Bukit Soeharto, dan Miniatur Hutan Hujan Tropis (MHHT) UNMUL di kawasan IKN.
“Ketiga kawasan itu akan menjadi simpul riset tropis UNMUL yang terintegrasi dengan agenda inovasi daerah. Kita akan kolaborasi dengan Pemkot Samarinda, Pemprov Kaltim, Otorita IKN, dan tentu saja dukungan mitra Jepang melalui JICA,” ungkapnya.
Program kerja sama ini juga diharapkan mampu memperkuat posisi UNMUL sebagai pusat riset tropis terbesar di Kalimantan, sekaligus menjadi pintu masuk bagi investasi pengetahuan global ke wilayah Indonesia Timur.
“Kerja sama dengan Jepang bukan sekadar pertukaran ilmu, tetapi bentuk nyata diplomasi riset untuk masa depan Kalimantan Timur yang lebih inovatif dan berdaya saing global,” tutupnya. (adv)
Editor: Erwin