Hal ini menunjukkan, Kakao Berau dinilai dapat menjadi penopang ekonomi di Kabupaten Berau pasca tambang. Sehingga komoditas kakao terus dikembangkan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Begitu pula yang dilakukan oleh salah satu Perusahaan tambang batubara di Kabupaten Berau, PT Berau Coal melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal dengan menunjukan keseriusannya dalam mengembangkan Kakao Berau.
Dengan menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia menyelenggarakan program Detasering atau Sekolah Lapang Budi Daya Kakao sesuai Good Agriculture Practice (GAP) pada petani-petani Kakao di Berau, 3-4 Juli 2024 lalu.
Kegiatan ini yang dilaksanakan di Sungai Enau selama dua hari yang diikuti oleh 46 petani, dengan jumlah kehadiran pada hari pertama sebanyak 15 petani dan hari kedua sebanyak 31 petani.
Para petani ini berasal dari daerah-daerah dampingan PT Berau Coal, seperti Kampung Bena Baru, Long Lanuk, Merasa, Samburakat, Sembakungan, Suaran, Rantau Panjang, dan beberapa daerah lainnya.
Kegiatan dimulai dengan pembekalan materi, kemudian para petani diberi kesempatan untuk praktik langsung ke lapangan didampingi oleh tim Puslitkoka dari Jember. Praktik yang dilakukan mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga penanganan kakao.
“Harapannya sesuai program kami, petani-petani kita bisa jadi lebih semangat untuk memilih dan merawat komoditas kakao dan terus secara berkepanjangan bermitra dengan Berau Cocoa,” ucap Section Head Cocoa Trading Berau Cocoa, M Issaef Sabana.
Selain itu, Social Enterprise Coordinator PT Berau Coal, Muhammad Masyhuri mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para petani dalam mengelola kebun kakao sesuai dengan GAP.
Program detasering atau sekolah lapang ini bertujuan untuk memberikan skill kompetensi kepada petani di seluruh areal dampingan PT Berau Coal, baik di Sambarata, Lati, atau Binungan.
"Program ini, bekerjasama dengan Puslitkoka agar petani bisa mengelola perkebunan kakao dengan baik sesuai dengan ketentuan GAP yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” jelasnya.
Program Detasering atau Sekolah Lapang Budidaya Kakao sesuai GAP, disambut antusias oleh para petani karena dinilai sangat bermanfaat untuk mereka dalam mengelola kebuk kakao.
“Kami sangat antusias sekali mengikuti, karena ini potensi yang sangat menjanjikan. Mudah-mudahan teman-teman yang mempunyai lahan bisa mengoptimalkan lahannya untuk penanaman kakao karena kita dibantu mulai dari bibit, penanganan, dan pendampingan sampai panen,” seru Hamka, petani kakao asal Kampung Samburakat.
Sejalan dengan itu, salah satu petani pemula asal Kampung Long Lanuk, Musa turut berterima kasih atas pendampingan yang telah diberikan oleh PT Berau Coal.
“Kami selaku petani pemula sangat bersyukur dan berterima kasih dimana kami diberi ilmu pengetahuan, mulai menanam sampai pemeliharaan pemangkasan,” tutupnya. ( Adv)