Acara itu berlangsung di Hotel Grand Kartika, Jalan KH. Khalid Kota Samarinda, selama dua hari dari Kamis (8/12/20220) dan Jumat (9/12/2022). Dihadiri oleh puluhan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seperti UINSI Samarinda, Universiras Mulawarman, Universitas Nahdaltul Ulama, Universitas Mahakam Widyagama dan Universitas 17 Agsutus 1995 Samarinda. Seusai Diskusi Publik, kemudian dilanjutkan deklarasi Mahasiwa Kalimantan Timur anti kekerasan.
Kepala Pusat Moderasi Beragama UINSI Samarinda, Dr. Akhmad Muadin, M.Pd mengatakan, perlu adanya upaya antisipasi sejak dini, terjadinya konflik multi sosial di tengah keberagaman masyarakat Kalimantam Timur, apalagi dalam menghadapi hajatan pemilu 2024 mendatang. Pontensi konflik sosial tersebut bisa saja terjadi apabila tidak diantisipasi sejak dini.
"Untuk itulah Rumah Moderasi UINSI Samarinda mengambil langkah cepat melalui kaum millenial, aktivis mahasiswa kemudian dianggap mampu menjadi garda terdepan dalam mencegah konflik multi sosial keberagaman di Kalimantan Timur," ujarnya melalui sambungan telephone.
Dengan demikian, pria akrab disapa Muadin itu berharap Rumah Moderasi UINSI Samarinda terus hadir dalam mensosialisasikan anti kekerasan dan melalukan pencegahan konflik baik yang mengatasnamakan suku, ras, agama maupun kelompok tertentu di Kalimantan Timur.
"Bukan tugas Kepolisian saja atau penegak hukum lainnya, rumah Moderasi Bergama UINSI pun harus hadir, mengkampanyekan pesan perdamaian menjaga nilai kemanusiaannya," tegas Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan itu.
Ia menyebutkan, pada diskusi publik tersebut ia juga turut mengundang narasumber dari Bawaslu Samarinda, Imam Sutanto, LBH GP Ansor Kaltim, Rusdiono dan Dosen UINSI, Saifullah. (Adv)
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Rusdi