
Sekretaris Umun Satupena Kaltim Sriningsih Hutomo mengatakan, Satupena memgambil peran di bidang kebudayaan melalui dialog budaya nusantara di Sepaku, guna memotret budaya lokal beserta sejarah dan segala atribut untuk diangkat sebuah buku proseding yang nantinya akan dipersembahkan untuk Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI selaku pendukung acara dialog ini, bersama Hetifah Sjaifudian, mengangkat tema Memetakan Keinginan Bawah Sadar Masyarakat Lokal dalam Mewujudkan Ibu Kota Negara Untuk Semua.
Dalam dialog ini ada tiga nara sumber, pertama Sibukdin ketua adat Paser Sepaku, narsum kedua adalah Paidah pelaku adat Paser, narsum ketiga Yossi Samban selaku Kepala Adat Paser bidang hukum adat Paser, dan sebagai pemantik dialog Nurul Kamaliah Umasangaji.
Kesbangpol Kaltim Firdaus SSos, mewakili Gubernur Kaltim mengatakan, guna mengidentifikasi kearifan lokal yang mendukung IKN. “IKN mengedepankan paru paru dunia, kearifan lokal ragam budaya sesuai dengan standar infrastruktur dunia. Kota yang smart dan berkelanjutan ramah lingkungan. Jadi kita dukung pembangunan IKN ini. Rakyat Kaltim jangan hanya jadi penonton jadi harus cerdas unggul berkualitas,” ujar Firdaus membacakan sambutan Gubernur.
Mewakili Penanggap dari Pusat RI, Vivi Yulaswati staf ahli Penanggulangan Kemiskinan dari Kementrian Bapenas, mengatakan jika mereka mempersiapkan master plan rencana induk IKN memang ditugaskan untuk selalu kordinasi.
“Dalam hal ini ada Pokja sosial, sehingga banyak sekali kerja bersama bapak ibu di sini untuk susun kajian awal sosial budaya, termasuk mempersiapkan pertemuan dengan Presiden. Pembangunan IKN sudah dimulai, IKN menjadi kota milik semua tidak hanya pusat tapi bapak ibu yang sudah menetap disini. Kebudayaan Indonesia tidak hanya satu titik, sangat banyak. Bagian dari peradaban yang modern berkelanjutan dan inklusif. Pemerataan pembangunan di wilayah timur,” jelasnya.
Di dialog ini, Vivi menyampaikan jika mereka hadir untuk mendengarkan lebih jauh mengenai nilai budaya untuk kelanjutan pembangunan IKN. Sebagai Ketua Adat Paser Sepaku Sibukdin, mengaku jika ia baru kali ini diundang.
“Kebudayaan disini jarang diketahui dari pihak pusat. Sepaku ini aslinya Paser Balik, selama ini kami tidak pernah diundang yang diundang malah dari luar. Padahal kami punya tempat dan tanah. Masak masuk rumah kami pamitnya sama tetangga?” ujar Sibukdin yang lahir di Paser Balik puluhan tahun lalu. Dan nenek moyangnya merupakan warga asli Paser Balik ribuan tahun lalu arau abad ke ke-16.
Padahal mereka juga sangat mendukung IKN. “Tapi kayaknya kami dianggap tidak ada. Semoga dengan adanya Satupena bisa menyalurkan aspirasi kami,” katanya.
Mewakili rakyat asli Pasrr Balik, Sibukdin mrngaku kuatir. “Kami disini banyak kuatiran, kami biasa hidup di bantaran sungai dan hutan, semoga pemerintah mau dan peduli kedudukan kami. Tempat kami bercocok tanam jangan dipindahkan dan akan kami pertahankan. Beri kami kekuatan hukum yang sah. Statusnya tanah HP (hak pakai). Bagaimana kami punya pegangan hukum? Legalitas dari kepemilikan tanah tidak ada. Padahal kami hidup puluhan bahkan ratusan tahun?” tandasnya.
Mereka ingin diakui secara tertulis setiap ada kegiatan pemerintahan. Setiap tamu datang, informasi saja tidak mereka dapat, padahal ada tari ronggeng, tepung tawar dan masih banyak. “Banyak mata pencairan kami hilang, kalau disiapkan SDM jadi harus disiapkan infra struktur. Jangan hanya sarankan-sarankan tapi kami tidak diberi ruang untuk jalan itu,” ujarnya.
Paidah, narsum pemerhati budaya Paser, menambahkan, Paser merupakan salah satu kerajaan, kesultanan yang cukup berperan di nusantara. “Paser ini sendiri kebudayaan paling lengkap , ada 3 yakni, budaya pedalaman asli paser sendiri, budaya pesisir islam melayu , dan budaya kerajaan kesultanan keraton.
Paser tercatat suku yang cukup tua, ketika kerjaan Majapahit memasuki Nusantara disitu bukti otentik, tercantum nama Paser termasuk Tanjung Kutai awal pertengahan abad ke.14. Peta-peta kuno mencantumkan nama Paser.
“Harapan saya ke Pemerintah paling penting adalah perlindungan hukum, tanpa itu 10 atau 20 tahun ke depan masih bertahan tapi seterusnya saya yakin akan tergusur. Perlindungan budaya tanah wilayahnya sosialnya bahkan politik. Kami akui kami sangat minoritas. Jumlah suku paser 150 ribu jiwa saja. Paser ini ada 12 sub suku. Pak dan ser, pak itu perang menyala, sedangkan Ser itu turun cahaya, artinya semangat yang menyala nyala atau bercahaya,” pungkasnya. (adv)
Penulis. Cholisoh
Editor: Aspian Nur