SRGS Departement Head PAMA KIDE Bhanuarso Kukuh Pambudi menyampaikan, secara global kondisi krisis pangan sudah dirasakan. Hal tersebut dikarenakan adanya perubahan iklim dan dampak pemanasan global, terlebih lagi cuaca ekstrim, hal tersebut dinilai sangat berpengaruh pada sektor pertanian.
"Petani harus lebih jeli dalam menyerap informasi dan tidak boleh menutup diri dengan perkembangan teknologi. Terus melakukan inovasi dan juga analisa yang matang berdasarkan kondisi, baik lingkungan, pasar, pola tanam serta teknologi. Bisa saja kedepan petani-petani binaan PAMA KIDE akan menjadi pioner dalam kesuksesan dunia pertanian sektor hortikultura," ucap Bhanuarso Kukuh Pambudi kepada Korankaltim.com Jumat (15/7/2022) hari ini.
Sementara CSR Section Head PAMA KIDE Bayu Handoko menyampaikan, pelatihan bagi petani binaan tersebut merupakan salah satu upaya memberikan kesempatan bagi petani untuk saling bertukar informasi antar petani. Sebab dalam kegiatan tersebut diikuti oleh 24 petani dengan enam titik lahan yang berbeda.
"Kami berharap ada pertukaran informasi antar petani terkait dengan perkembangan teknologi pertanian, kondisi pasar dan adanya sharing terkait kendala dalam bertani untuk mencari innovasi terbaru yang akan berdampak pada kesejahteraan petani binaan," ujar Bayu Handoko.
Sementara Kepala Desa Sungai Terik Jumin menyampaikan, program pembinaan yang dilakukan oleh PT Pamapersada Nusantara terlaksana secara kontinyu, bahkan sampai pada tahap pendampingan dan monitoring sehingga secara tidak langsung juga membentuk petani yang mandiri.
"Tidak hanya diberi pelatihan saja, tapi masyarakarat juga dibina dan mendapatkan pendampingan dan monitoring secara berkelanjutan sampai mereka dinyatakan mandiri," pungkas Jumin. (adv).
Penulis : Dwi Cahyo
Editor: Aspian Nur