Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Saipul Rahman menuturkan, ada dua jenis pendapatan yang dimiliki Perumda Air Minum, yakni pendapatan air dan pendapatan non air. Pendapatan air berasal dari air per kubik yang dibayarkan oleh pelanggan. Sedangkan pendapatan non air salah satunya berasal dari biaya pemasangan sambungan rumah.
"Laba yang didapatkan berasal dari pendapatan non air. Jika tidak ada pemasangan baru pasti kami tambah rugi," kata Saipul kepada Korankaltim.com Kamis (30/6/2022).
Tarif penjualan air yang saat ini berlaku diakuinya masih dibawah biaya produksi. Kerugian yang ditanggung Perumda Air Minum Batiwakkal sebesar Rp50 per meter kubik.
"Namanya pelayanan ya seperti itu, tidak terlalu mengejar laba tetapi yang terpenting adalah pelayanan yang maksimal," ucap Saipul.
Di tahun 2020 lalu biaya produksi yang harus dikeluarkan mencapai Rp5.454 per meter kubik dengan tarif sebesar Rp4.728 per meter kubik, sehingga besar kerugian sekira Rp900 per kubik.
Di tahun selanjutnya, Perumda Air Minum Batiwakkal berhasil menekan harga produksi menjadi Rp4.819 per meter kubik, sehingga berhasil membuat angka kerugian hanya Rp50 per meter kubik.
"Itu adalah upaya maksimal kita untuk menekan biaya produksi," sambungnya.
Untuk diketahui, tarif air yang ditetapkan pada Perumdam Tirta Kencana Samarinda rata-rata adalah Rp 7.540 per meter kubik, sedangkan pada Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim menetapkan tarif sebesar Rp 7.669 per meter kubik.
"Untuk menghasilkan satu meter kubik air dengan harga dibawah Rp 5 ribu kita paling efisien," pungkasnya. (Adv)
Penulis: Tri Romadhani
Editor: Aspian Nur