Komitmen PKT Kurangi Emisi CO2 Sebesar 30 Persen di Tahun 2030
2 menit baca327 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, JAKARTA - Ditengah fenomena perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi saat ini, usaha pengendalian emisi gas rumah kaca menjadi sangat mendesak untuk dipercepat memasuki tahun 2023-2040 sebagai tahun kritis pada perubahan iklim.
Hal ini diungkapkan Prof Dr Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup RI 1978 - 1993 dalam acara Becoming Industry Champion by Implementing Green & Sustainable Business.
Inilah yang membuat dunia usaha perlu ikut aktif berkontribusi mengendalikan Net Zero Emission. “Dalam perkembangan dunia saat ini, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change, sasaran pengendalian suhu agar tidak lebih dari 1,5 derajat celcius (dari hasil Pertemuan Paris 2015) sulit tercapai karena peningkatan suhu tersebut kini telah terjadi. Hal inilah yang membuat target Net Zero Emission menjadi bergeser dari 2050 ke 2040. Dari situ, usaha pengendalian greenhouse dan gas karbon dioksida (CO2) perlu dipercepat. Penting bagi dunia usaha agar berperan aktif melakukan pembangunan berkelanjutan dan mempercepat target Net Zero Emission tersebut. Oleh karena itu, sudah saatnya kita selamatkan dunia dari ancaman perubahan iklim” ujar Elim Salim.
Sebagai produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) memiliki komitmen besar dalam mengurangi emisi CO2 mencapai 30 persen pada tahun 2030.
Dalam praktiknya, PKT terus berkomitmen mengurangi emisi karbon sebanyak sepertiga tiap satu decade yang diharapkan pada 2050 bisa tercapai bebas emisi karbon. Upaya ini kian ditempuh melalui pendekatan geological atau biological untuk bisa menyerap CO2.
“Dalam menyusun rencana pengembangan perusahaan, atau yang biasa kami sebut PKT Growth Strategy, konsep ESG menjadi bagian tak terpisahkan agar kita dapat tumbuh di masa depan. Kami memiliki visi untuk menjadi perusahaan kelas dunia di bidang agribisnis dan petrokimia. Untuk mencapai hal tersebut, kami telah mengusung tiga strategi, antara lain supply chain excellence, diversification excellence dan geographical expansion excellence,” kata Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi.
“Praktik-praktik ini tidak hanya sebagai upaya mengurangi jejak karbon, tetapi dapat memberikan dampak keberlanjutan dan multiplier effect positif baik bagi perusahaan, masyarakat sekitar, maupun negara,” imbuhnya.
Dalam praktiknya, PKT senantiasa melakukan green initiatives melalui pemanfaatan solar panel hingga mengeluarkan produk-produk yang eco-friendly, salah satunya adalah Smart Bioball.
Produk ini merupakan salah satu produk unggulan untuk mereklamasi lahan-lahan bekas tambang. Bekerja sama dengan Kaltim Prima Coal (KPC) yang merupakan open pit (mining) terbesar di dunia, Bioball yang mengandung seed dan nutrient ini nantinya diberikan ke open pit sehingga bisa mereklamasi lahan tambang KPC tersebut.
Tak sampai disitu, dibidang sosial, PKT juga telah melakukan beberapa hal, salah satunya marine biodiversity. Upaya ini menjadi penting karena kontribusinya nyatanya cukup besar untuk mempertahankan dunia yang terus hijau.
“Saat perusahaan menerapkan konsep-konsep ESG secara serius, nyatanya kinerja keuangan perusahaan justru semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ke depan, kami akan terus melakukan pengembangan bisnis dan teknologi baru, termasuk yang difokuskan pada penyerapan CO2 untuk digunakan sebagai bahan baku produk lainnya serta mensubstitusi bahan baku gas alam dengan hidrogen berbasis EBT untuk menghasilkan Green Ammonia,” paparnya.
“Nantinya, tidak hanya Amonia nya yang zero carbon fuel, proses produksinya pun tidak mengeluarkan karbon.” tutup Rahmad. (adv)










