Dibanding tahun 2018 lalu, angka rata-rata lama sekolah berada di angka 9,06 tahun. Pada 2019, menjadi 9,08 tahun. Sementara angka partisipasi sekolah (APS) untuk penduduk berusia 7-12 tahun dan 13-15 tahun juga mengalami peningkatan. Dari 118,68 persen di 2018 menjadi 120,06 persen di 2019. Serta 76,66 persen di 2018 menjadi 82,55 persen pada 2019.
Sedangkan angka partisipasi kasar (APK) di jenjang pendidikan SD dan SMP juga mengalami peningkatan. Untuk SD, dari 126,29 persen di tahun 2018 menjdi 127,60 persen di 2019, dan SMP dari 98,90 persen di 2018 menjadi 104,43 persen di tahun 2019.
Begitu juga pada Angka Partisipasi Murni (APM) untuk jenjang pendidikan SD dan SMP. Kembali meningkat pada 2018 hingga 2019. Yakni, SD dari 111,18 persen ke 114,47 persen dan SMP dari 74,26 persen ke 75,21 persen di tahun 2019.
“Tentu dengan semakin banyak anak-anak yang tidak hanya terpusat di ibukota kabupaten, tapi di wilayah pedesaan yang menikmati fasilitas pendidikan. Baik pendidikan negeri maupun swasta. Semakin banyak pula kita memiliki generasi penerus yang akan membangun daerah kita,” ungkap Ismunandar.
Tak hanya fasilitas pendidikan, ia bersama dinda Kasmidi, sapaan akrab Bupati terhadap Wakil Bupati, juga dukungan Bunda Paud Kutim, Hj Encek UR Firgasih SH MAP, terus memperbanyak sekolah-sekolah usia dini serta melaksanakan program gerakan minum susu di hampir seluruh sekolah tingkat PAUD maupun SD se Kutai Timur.
“Hal ini, demi menciptakan generasi emas yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus dalam membangun daerah Kutai Timur, menjadi daerah yang maju dan sejahtera, secara menyeluruh,” tandas Kasmidi.(adv)
Penulis: Zulhamri
Editor: Desman Minang