Tim Jamkesnews datang dan menghampiri seorang pasien laki-laki paruh baya yang sedang menjalani cuci darah dan ditemani oleh seorang anaknya.
Dia adalah Ardiansyah (54), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pendidikan Kabupaten Berau. Pria ini peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU).
Ardiansyah menceritakan, ia rutin menjalani cuci darah setiap seminggu sekali. Rutinitas ini ia jalani sejak pertengahan 2017 silam setelah ia dinyatakan gagal ginjal oleh dokter. Ia menyadari penyakitnya bukan penyakit biasa, tapi penyakit yang memerlukan biaya mahal untuk pengobatannya.
Meskipun berstatus sebagai PNS aktif, gaji yang diterimannya tidak akan cukup untuk membiayai proses cuci darah yang jadwalnya seminggu sekali. Kebutuhan sehari-hari juga harus terpenuhi. “Sangat berat kalau saya mesti menanggung biaya cuci darah sendiri, tapi untunglah ada program JKN-KIS,” ujarnya dengan nada lega.
Ardiansyah menuturkan manfaat dan pentingnya program JKN-KIS sangat besar. Ia juga bersyukur program JKN-KIS hadir sehingga banyak membantu dan bermanfaat bagi pesertanya. “Tidak terbayang berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk tetap bertahan hidup jika tidak memanfaatkan JKN-KIS. Tetapi dengan JKN-KIS selama saya menjalani pengobatan ini tidak sedikitpun mengeluarkan biaya karena semua sudah dijamin oleh JKN-KIS,” tambahnya.
Ardiansyah tak sendiri, bersama puluhan pasien dengan kondisi sama, semuanya sangat merasakan manfaat program JKN-KIS dalam hal pembiayaan cuci darah. “Program ini memang benar-benar sangat kami butuhkan,” tambahnya.
Selama menjalani pengobatan baik rawat inap maupun rawat jalan, Ardiansyah menjelaskan tidak pernah mengalami kendala. Ia selalu memperoleh pelayanan yang baik dari petugas.
“Dokter dan perawat di sini pun sudah seperti keluarga sendiri karena kami selalu bertemu seminggu sekali, dan di antara kami para pasien cuci darah juga saling menguatkan satu sama lain untuk tetap sabar dan bersemangat menjalani semua,” ucapnya sambil tersenyum.
Di akhir perbincangan, Ardiansyah mengingatkan akan pentingnya pola hidup sehat karena kesehatan adalah anugerah yang sangat besar dari Tuhan dan sudah sepatutnya kita dapat menjaga anugerah tersebut. “Lebih baik mencegah dari pada mengobati, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, termasuk untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat,” tutup Adiansyah. (adv)
Penulis: Adhi Abdhian
Editor: Muh.Huldi