“Dampak buruk kekurangan gizi tidak hanya terjadi pada bentuk tubuh yang pendek maupun kurus. Namun juga pada tingkat kecerdasan otak yang akan berimbas pada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Karena itu upaya percepatan perbaikan gizi terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) perlu dilakukan bersama,” ungkapnya.
Rini menjelaskan, kasus anak dengan tinggi badan lebih pendek dari standar usianya (stunting) masih sangat tinggi. Inilah menjadi perhatian utama peringatan HGN 2018. Dengan sub tema Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1.000 HPK untuk pencegahan stunting.
Faktor utama penyebab stunting yakni buruknya asupan gizi sejak periode awal pertumbuhan dan perkembangan janin hingga anak berusia dua tahun. Selain itu terdapat beberapa penyebab lain seperti lingkungan yang kotor atau seringnya ibu hamil mengkonsumsi alkohol.
“Langkah pencegahan dan penanganan stunting perlu adanya sinergitas antara pemerintah hingga partisipasi masyarakat,” ungkapnya.
Terakhir Rini menyampaikan, ada 3 langkah sederhana untuk mencegah stunting pada anak di antaranya, memberikan asupan nutrisi yang baik pada ibu hamil dan menyusui. Memberikan asupan gizi yang baik pada anak serta ASI ekslusif pada bayi hingga usia 6 bulan. Pola hidup sehat dan bersih seperti tidak mengkonsumsi alkohol, membiasakan cuci tangan pakai sabun serta menjaga lingkungan dan sanitasi yang bersih. (adv)