Pengurus KONI Samarinda Mundur


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 minggu yang lalu     109 kali
img BERMASALAH: Ketua KONI Samarinda Ade Sukma saat menerima pataka dari Ketua KONI Kaltim Zuhdi Yahya dalam pelantikan Desember 2017 silam. Empat bulan berjalan, sebagian pengurus mulai meninggalkan Ade Sukma karena tak ada transparansi. (FOTO: Nancy/kk)

SAMARINDA – Diam-diam, kepengurusan KONI Samarinda bermasalah. Itu terbukti dengan mundurnya beberapa pengurus inti pada organisasi olahraga dibawah kepemimpinan Ade Sukma yang dilantik pada 17 Desember 2017 silam.

Dengan alasan tak ada sinkronisasi antara pengurus KONI dengan cabang olahraga serta tidak adanya keterbukaan dalam kepengurusan, M Munir Alhabsyi yang menjabat Wakil Ketua V (Bidang Sarana, Prasarana dan Umum), Triyanto Hadi jabatan Wakil Ketua II (Bidang Pembinaan Prestasi) dan H Wahyudi menjabat Wakil Ketua I (Bidang Organisasi) resmi menyatakan mundur terhitung sejak Rabu (11/4) kemarin.

Kepada media ini, Munir menegaskan dalam suatu organisasi seperti KONI perlu adanya sinkronisasi dengan cabang olahraga dengan saling koordinasi satu sama lain, dalam artian cabor perlu perhatian. “Tetapi ini justru sebaliknya, tidak ada sama sekali perhatian dan memang sudah tidak ada keterbukaan khususnya dalam lingkup kepengurusan. Cabor ini perlu penyegaran dan dengan  situasi saat ini pun mereka masih tetap berlatih rutin meski tidak maksimal,” sebutnya.

Munir mengaku dirinya tak pernah dilibatkan dibidang yang dibawahinya seperti renovasi kantor KONI Samarinda termasuk dengan pelantikan. “Renovasi gedung KONI Samarinda saja saya tidak tahu sama sekali padahal ini bidang saya, dirapatkan saja tidak ada apakah perlu atau tidak, ini tiba-tiba sudah direnovasi, intinya tidak pernah dilibatkan,” ung­kap Munir.

Menurutnya wajar jika cabang olahraga dibawah naungan KONI itu perlu perhatian dan itu sudah menjadi kewajiban KONI Samarinda. Apalagi dalam waktu dekat akan dilaksanakan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI/2018 Desember di Kutai timur, ini perlu persiapan yang matang jika ingin mempertahankan juara umum yang pernah disabet Kota Tepian 2014 silam.

“Jangankan itu, pelaksanaan event atau memberikan motivasi kepada atlet cabang olahraga saja tidak ada, padahal mereka ini berjuang untuk Samarinda demi menjaga gengsi daerah. Kepengurusan KONI Samarinda perlu pembenahan, harus ada komunikasi, sehingga bisa solid, inilah yang menjadi alasan saya mundur karena memang tidak ada keterbukaan lagi,” tegas Munir yang juga pelatih atletik Samarinda ini.

Yang menjadi kendala utama adalah masalah anggaran dan bisa dimaklumi karena pendanaan di pemerintahan defisit. Melihat situasi seperti ini seharusnya figur ketua mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi itu yang harus dimiliki.

“Kasarnya hutang dulu atau apalah untuk mengusahakan, sehingga roda organisasi ini bisa tetap berjalan baik KONI maupun cabang olahraganya. Bukan malah seperti saat ini, begitu tidak ada anggarannya malah berharap lebih dari pemerintah, padahal kita sudah tahu pemerintah tidak hanya serta merta mengurus olahraga saja, tetapi permasalahan yang ada di Samarinda dan kami paham itu,” tutup Munir. (rgn)

berita TERKAIT


baca LAINNYA