Dinas Kesehatan Kecolongan pada Kasus Keracunan Massal


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 minggu yang lalu     339 kali
img Salah satu korban keracunan makanan di SMP Negeri 2 Tarakan terpaksa dirujuk ke RSUD Tarakan untuk mendapatkan penanganan medis lebih baik.(FOto: ist)

TARAKAN – Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, Subono MT mengaku pihaknya merasa kecolongan dengan kasus keracunan yang terjadi di SMP Negeri 2 Tarakan. Sebab, selama ini Dinas Kesehatan selalu memberikan pembinaan dan pengecekan kantin yang dikelola oleh sekolah.

“Bisa dibilang ini kecolongan, karena selama ini pengawasan dan pembinaan sudah kita lakukan. Kita selalu memberikan edukasi bagaimana membuat makanan dan minuman yang sehat, baik dari jenis bahan yang digunakan, tidak boleh gunakan bahan pengawet, pewarna kimia dan larangan penggunaan bahan berbahaya lainya,” ungkapnya, Rabu (7/2).

Ditegaskan Subono, tanpa kasus keracunan pun pihaknya selalu melakukan pengawasan dan pembinaan kepada Unit Kerja Sekolah (UKS) yang membawahi kantin sekolah, UKS ini adalah kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Tarakan, guna memberikan makanan sehat kepada warga sekolah. Karena yang menjual makanan dan minuman di kantin tidak sembarangan, pihak sekolah memberikan rekomendasi dan pembinaan.

“Kita juga melakukan pemeriksaan di mana tempat sampahnya, bagaimana tempat pengolahan makanan, bagaimana cara mengolah, dan bahkan penjualnya juga kita periksa kesehatanya, jangan sampai penjualnya menularkan penyakit kepada pembeli,” tegasnya.

Saat diwawancarai sekitar pukul 13.00 Wita, jumlah korban keracunan yang kesemuanya merupakan siswa SMP Negeri 2 Tarakan mencapai 40 orang di mana 5 diantaranya terpaksa dirujuk ke RSUD Tarakan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Disinggung penyebab keracunan, Subono mengaku belum bisa memastikan meskipun banyak korban yang mengaku makan nasi uduk tetapi harus melalui uji laboratorium. Hal ini dilakukan untuk memberikan pertanggungjawaban yang lebih pasti.

“Kita belum tahu persis, apakah dari nasi atau dari lauknya, bisa saja karena sambelnya, kecap, dan bumbu lainya. Makanya kita bersama tim Polres Tarakan mengambil sampel makanan untuk di uji di laboratorium, guna memastikan jenis racun apa dan dari makanan yang mana. Hasilnya mungkin harus menunggu satu hari,” bebernya.

Untuk menangani korban keracunan ini, Dinas Kesehatan sempat mengerahkan 5 unit mobil ambulance untuk merujuk korban yang kondisi kesehatanya terus menurun, selain itu juga untuk antisipasi jika ada dari sekolah atau korban yang sudah terlanjur pulang untuk mendapatkan pertolongan.

“Korban sementara 40, tetapi masih ada yang datang dan kemungkinan besar akan bertambah sedangkan 5 orang korban sudah dirujuk ke RSUD. Bahkan kita pinjam ambulance dari Puskesmas Sebengkok, dan mengerahkan semua tim medis untuk membantu di Puskesmas Karang Rejo ini,” jelasnya.

Kasus keracunan kali ini termasuk yang terbanyak dari kasus-kasus sebelumnya, meskipun beberapa tahun lalu sempat ada keracunan massal yang melibatkan beberapa anak dari TK ternama di Tarakan, namun tidak sebanyak kali ini.

“Kita langsung tingkatkan ini sebagai Kejadian Luar Biasa karena memang harus mendapatkan penanganan serius,” ucapnya.

Sedangkan untuk biaya semuanya ditanggung pemerintah daerah bagi yang tidak memiliki BPJS Kesehatan, tetapi bagi yang sudah terjamin dalam kepesertaan BPJS Kesehatan seluruh biaya pengobatan menjadi tanggungan asuransi. (yan)



baca LAINNYA