Tindakan Represif Polisi Balikpapan Dikecam


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 week ago     1.045 kali
img Membaik: Kondisi Rinto, mahasiswa korban kericuhan saat aksi di depan Kantor Wali Kota Balikpapan kemarin membaik setelah menjalani perawatan medis. Rinto saat dibesuk rekan sesama mahasiswa, Selasa (12/9). (Foto: Sardiman/kk)

SAMARINDA - Berbagai pihak mengecam tindakan represif aparat terhadap mahasiswa saat aksi di Balikpapan. Seorang mahasiswa kritis dan terpaksa di rawat di rumah sakit.

Aktivis lingkungan yang menjabat Dinasmisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradharma Rupang mempertanyakan keseriusan institusi polri yang menyatakan mereformasi diri di bawah pemerintahan Jokowi. Dia mengaku tak habis fikir kepolisian saat menangani demo terkait kritik model pembangunan yang dihadapai dengan sangat berlebihan. 

“Menghadapi mahasiswa saja pakai cara barbar, represif sangat tidak mendidik dan memalukan,” ucap pria berkacamata itu di konfirmasi Koran Kaltim, Selasa (12/9) kemarin.

Polres Balikpapan lanjut dia, seharusnya bisa menahan diri, mengawal aksi hendaknya mengedepankan langkah-langkah persuasif. “Bagi saya permintaan maaf Polres Balikpapan tidak cukup.  Kapolres harus mengusut tuntas pemukulan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian pada aksi itu,” tegas Rupang.

Dari rumah sakit dilaporkan, kondisi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Balikpapan, Rinto mulai membaik. Rinto sempat pingsan karena tindakan refresif petugas saat berdemo, Senin kemarin. Korlap demo mahasiswa ini sempat ke DKK lalu dibawa ke RS Bayangkara dan dirujuk ke RS Siloam.

Kepada media  dia meyakinkan tetap melanjutkan kritik atas persoalan banjir Kota Balikpapan. “Chaos saat aksi tidak menjadi penghalang untuk menyuarakan persoalan banjir,” tuturnya Rinto.

Rinto mengaku mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan. Lehernya juga dicekik. “Saya sudah narik badan tapi mereka tetap mendekat dan memukuli kepala saya berkali-kali,” bebernya. 

Selasa pagi, Rinto yang dirawat di RS Siloam juga ditemani rekan-rekannya sesama aktivis kampus. Sejumlah pejabat  membesuk termasuk Kapolres AKB Dian Juniarta, Wakil Wali kota Rahmad Mas’ud. Dia  mengaku telah berkonsultasi dengan Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Universitas Balikpapan atas kasus yang menimpa dirinya.

Terpisah, Rektor Universitas Balikpapan Piatur Pangaribuan menyayangkan represivitas aparat kepolisian menimpa mahasiswanya. Terlebih dia telah melihat video yang beredar di lini massa bahwa polisi terlalu reaksioner dan berlebihan dalam mengamankan unjuk rasa. 

“Boleh mereka (polisi) menjalankan tugasnya tapi jangan melihat persoalan secara parsial. Apalagi yang mereka hadapi mahasiswa. Sebelum unjuk rasa mereka berdoa bersama saya dan saya yakin tidak ada niat mahasiswa untuk melakukan pembakaran,” katanya.

Unjuk rasa itu, lanjut Piatur, telah mendapat restu dirinya dan juga telah disampaikan pesan-pesan dari akademik. 

Sementara itu, Kapolres Balikpapan AKBP Jeffri Dian Juniarta membeberkan adanya pelecehan yang dilakukan mahasiswa kepada Polwan yang bertugas. “Sejak awal, kan sudah  diarahkan ke DPRD. Namun mereka justru demo di halaman Kantor Walikota. Makanya kami pasang barikade Polwan. Biar humanis. Tetapi kok terjadi aksi dorong mendorong. Membuat Polwan yang ada di depan terjatuh bahkan maaf, payudaranya di pegang oleh teman-teman yang demo,” ungkap Jeffri, kemarin (12/9).

Pernyataan Kapolres ini berdasarkan laporan dan bukti yang diperolehnya dari aksi unjuk rasa. Diapun meminta mahasiswa lebih mengedepankan intelektual saat melakukan aksi.

Soal nasib dua mahasiswa yang ditahan Polres Balikpapan yakni Rizki Usman dan Ahmad Rozali, polisi sudah melakukan pemeriksaan dan mengembalikan mereka ke kampus. (rs/din)



loading...

baca LAINNYA

korankaltim
korankaltim
8 minutes ago | dibaca 84 kali
img
korankaltim
korankaltim
9 minutes ago | dibaca 103 kali
img