Sekwan DPRD Bontang Tersangka


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     3 months ago     854 kali
img FOTO: TIMKREATIF/KK

SAMARINDA - Kejaksaan Negeri (Kejari) Bontang menetapkan empat tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan eskalator di DPRD Bontang senilai Rp2,9 miliar, tahun anggaran 2015.  Penetapan tersangka dilakukan pada ekspos dari Kejari Bontang yang digelar  di Gedung Satuan Petugas Khusus (Satgassus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, di Jalan Bung Tomo, Samarinda, Kamis (10/8) siang kemarin.

Kepala Kejati Kaltim Fadil Zumhana melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Kaltim, Acin Muksin menjelaskan, pada ekspos yang dihadiri Wakil Kepala Kejati Kaltim , para asisten, koordinator, Kasi Penkum, jaksa jaksa senior serta satgasus, juga hadir Plt Kepala Kejari Bontang Agus Kurniawan dan tim penyidik Kejari Bontang disimpulkan pemeriksaan telah terpenuhi alat bukti dan menetapkan empat tersangka.

“Sementara ada empat orang tersangka yaitu, FR selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang tak lain Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Kota Bontang, kemudian KMR selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), SM selaku Penyedia Barang atau Rekanan dan NGH selaku subkontraktor,” ungkap Acin, saat ditemui media di ruang Wakajati Kaltim Jumat (11/8) kemarin.

Dari hasil penyidikan tim penyidik Kejari Bontang, untuk penyidikan lebih lanjut Kejati Kaltim menarget dapat diselesaikan dalam waktu 10 hari kedepan, untuk melengkapi berkas penyidikan sehingga dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

“Penyidik diberikan waktu 10 hari sampai 21 Agustus 2017 mendatang, untuk pendalaman dan menyempurnakan serta melengkapi penyidikan serta melakukan upaya paksa tahap penyidikan, melengkapi alat bukti dan barang bukti, melakukan pengeledahan, penyidikan,” urai Acin.

Proyek pengadaan eskalator yang menghubungkan lantai dasar dan lantai 1 di Gedung DPRD Bontang ini, terendus dan menjadi temuan Kejari Bontang, karena adanya dugaan tindak pidana korupsi, dengan indikasi adanya dugaan mark up harga. Meski nilai kerugiannya masih dihitung secara pasti oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), namun Acin mengatakan potensi kerugian negara dalam proyek dengan dana anggaran dari APBD Bontang Tahun Anggaran 2015 ini mencapai Rp1,4 miliar.

Sejumlah kejanggalan yang tercium adalah karena meskipun menggunakan APBD Tahun 2015, proyek tersebut baru selesai awal 2016 dan dibayarkan di APBD Perubahan tahun 2016. Pengerjaan yang harusnya rampung pada 26 Desember 2015 tak bisa dipenuhi  kontraktor. Saat itu, kontraktor beralasan eskalator yang didatangkan dari Tiongkok itu tertahan di Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Sehingga diberikan adendum selama 50 hari untuk merampungkan pekerjaan.  Hal ini kemudian memancing kritik dari lembaga swdaya masyarakat (LSM) anti korupsi sejak 2016. (rs) 


Data Tersangka:

1. FR selaku Pejabat Pembuat 

Komitmen (PPK) yang tak lain 

Sekretaris Dewan DPRD Kota Botang

2. KMR, selaku Pejabat 

Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)

3. SM selaku Penyedia 

Barang atau Rekanan

4. NGH selaku subkontraktor

*Sumber : Kejati Kaltim





loading...

baca LAINNYA