Sektor Kehutanan Menjanjikan 97,51 Miliar Dolar AS


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     2 minggu yang lalu     190 kali
img potensi kehutanan: Bambang Hendroyono saat menghadiri 10th Indogreen Environment and Forestry Expo 2018 di Samarinda.

SAMARINDA - Pengelolaan hutan dalam menunjang perekonomian guna mendorong pembangunan nasional bak gajah tidur. Bagaimana tidak, saat ini Indonesia khususnya Kaltim masih sibuk dan terlena dengan ekonomi berbasis eksplorasi.  Padahal, potensi hutan Indonesia sangat tinggi.  

Sekretaris Jendral (Sekjen) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Hendroyono menjelaskan, kalau hutan itu dikelola dengan baik,bukan hanya swasta tapi juga  masyarakat dan BUMN, akan menghasilkan potensi yang luar biasa.  

“Berdasarkan perhitungan kami dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, ternyata  menuju 2045 potensi pemanfaatan hutan dan pasokan bahan baku untuk industri kehutanan Indonesia tahun 2045,  dapat menghasilkan devisa  97,51 miliar dolar Amerika per tahun, atau setara dengan 8,9 kali devisa tahun 2017,” ujarnya usai membuka 10th Indogreen Environment and Forestry Expo 2018 di Samarinda, Kamis (5/4) kemarin.

Ia membeber, potensi tersebut dapat terwujud apabila konsep konfigurasi bisnis kehutanan dengan melaksanakan pengembangan industri hilir berbasis hasil hutan kayu, ekowisata, agroforestry, jasa lingkungan, serta bioenergi, dan panas bumi, dilakukan.

Kaltim, kata dia, menjadi daerah yang amat potensial karena memiliki luas lahan yang mencukupi, khususnya untuk kawasan hutan hujan tropis. Selain itu, potensi ekotourism juga dapat dieksplorasi secara proporsional.

“Untuk itu sangat diharapkan peran dunia usaha untuk menjadi konseptor kegiatan usaha kehutanan berbasis masyarakat. Peran pemerintah juga diperlukan untuk memastikan tata kelola hutan yang harus diperbaiki supaya tidak ada lagi tumpang tindih lahan,” paparnya.

Dari sektor pembiayaan, lanjut dia, KLHK juga telah mendorong melalui regulasi yang mempermudah masyarakat pelaku usaha kehutanan, mendapatkan permodalan dari perbankan.  Setidaknya, kata dia ada BNI, BRI dan BTN yang sudah bekerjasama dalam hal pembiayaan sektor industri perhutanan.

“Saat ini kami sudah berhasil meyakinkan sektor perbankan bahwa faktor resiko yang ada industri perhutanan sudah bisa diturunkan.  Daur yang lama bisa disiasati dengan memberikan selingan. Misalnya dengan ekowisata, atau saat menanam kayu yang jangka panennya lama, bisa ditanami palawija di selanya,” bebernya.

Kepala Dinas Kehutanan Kaltim Wahyu Widhi Heranata membeber, hutan Kalimantan Timur berdasarkan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Timur NO 01 Tahun 2016 terdiri dari Kawasan Hutan Suaka Alam seluas  438.390 hektare dan  Luas Hutan Lindung  1.844.969 hektare serta  Hutan Produksi Terbatas  2.908.256 hektare. (rs)


berita TERKAIT


baca LAINNYA