Menilik Potensi Industri Pengolahan di Kutai Kartanegara


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     2 bulan yang lalu     5.673 kali
img Tiya Mitasari

VISI pembangunan industri nasional sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional adalah menjadikan Indonesia sebagai negara industri tangguh pada 2025.

Pembangunan industri ke depan ditujukan agar sektor industri dapat tumbuh lebih cepat, sehingga dapat berperan lebih besar dalam penciptaan nilai tambah yang berujung pada peran sektor industri dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. 

Hal tersebut sejalan dengan semangat transformasi ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu beralih dari unrenewable resources menjadi renewable resources. 

Oleh karena itu, salah satu proses transformasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan kategori lapangan usaha yang potensial. Salah satunya adalah sektor industri pengolahan. Baik industri besar, menengah maupun kecil.  

Komoditas unggulan yang ada di Kutai Kartanegara untuk komoditas utama pada industri besar adalah industri kelapa sawit, karet dan kayu. Sedangkan untuk industri kecil dan menengah yaitu industri pangan, kerajinan dan industri logam/kayu seperti kusen, teralis dan sejenisnya.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kutai Kartanegara dalam beberapa tahun terakhir ini, sesuai 

tugas dan fungsinya semakin fokus pada promosi dan pencarian investor non pertambangan, semisal perkebunan.

Bukan menawarkan lahan, tapi menawarkan potensi pemanfaatan limbah dari pabrik kelapa sawit yang banyak terdapat di wilayah Kutai Kartanegara.

Limbah pabrik kelapa sawit seperti cangkang buah merupakan bahan baku energi alternatif yang cukup bernilai investasi tinggi dan menarik investor. Di mana Kutai Kartanegara menempatkan skala prioritas pada bidang pertanian dalam arti luas. Pun dengan potensi perikanan, juga menjadi bahan promosi investasi, mengingat produksi ikan di Kutai Kartanegara membutuhkan pabrik industri pengolahan ikan siap konsumsi. Hal ini juga merupakan bentuk komitmen daerah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. 

Peranan sektor industri pengolahan dalam pembentukan PDRB non migas dan pertanian Kabupaten Kutai Kartanegara cenderung mengalami trend yang menurun hingga 2015, namun mengalami peningkatan kontribusi sebesar 17,2 persen pada 2016.

Hal ini sejalan dengan hasil Sensus Ekonomi  (SE) 2016, di mana jumlah usaha dari sektor industri pengolahan sebanyak 5.309 usaha dengan penyerapan tenaga kerja tak kurang dari 36.764 orang. 

Pertumbuhan kategori industri pengolahan relatif lebih stabil dibanding kategori lainnya. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, kategori ini masih tumbuh positif 8,59 persen pada tahun 2016. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri pengolahan merupakan ladang pengembangan yang potensial. 

Merujuk data Disperindagkop Kabupaten Kutai Kartanegara, terjadi peningkatan jumlah industri pada jenis industri olahan pangan dari 3.174 industri menjadi 5.042 industri pada 2016. Jumlah tenaga kerjanya juga meningkat lebih dari dua kali lipat. 

Industri olahan pangan di Kutai Kartanegara didominasi pengolahan kerupuk dan kue kering. Sedangkan untuk industri alat angkut yang unggul di Kutai Kartanegara adalah industri pembuatan galangan kapal. Kemudian untuk industri bahan bangunan lebih banyak pada industri kusen dan batu bata.

Salah satu bagian dari sektor pariwisata yaitu industri kerajinan di Kutai Kartanegara juga memberikan share cukup besar dengan jenis kerajinan manik, sulam, rotan dan ukiran kayu.

Data Disprindagkop itu juga menunjukkan jumlah unit usaha berdasarkan skala usaha lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Tenggarong, Samboja, dan Tenggarong Seberang. 

Kecamatan Samboja sangat potensial menjadi sentra industri makanan dan minuman berbasis agro buah naga dengan luas lahan sekitar 400 hektare. Produksi buah naga yang melimpah maka akan berpengaruh terhadap harga yang cenderung menurun. Terlebih komoditas ini tidak akan tahan lama tanpa alat pengawet. Melihat kondisi tersebut, perlu untuk dilakukan hilirisasi produk dari berupa buah segar menjadi produk olahan buah naga yang bernilai jual tinggi. (*)


 Tiya Mitasari 

( Staf Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kutai Kartanegara )


berita TERKAIT


baca LAINNYA