MENAKAR KUALITAS SDM KUTAI KARTANEGARA MELALUI PENDIDIKAN


korankaltim
korankaltim
tiya mitasari     2 bulan yang lalu     140 kali

Partisipasi sekolah merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan pemerintah dibidang pendidikan. Dengan partisipasi sekolah kita dapat mengetahui seberapa besar partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan dari berbagai kelompok umur dan jenjang pendidikan. Program pemerintah di sektor pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila semakin banyak anak umur sekolah yang masih aktif bersekolah. Namun sebaliknya, apabila persentase anak umur sekolah yang masih sekolah cenderung rendah, program pemerintah dapat dikatakan gagal. 

Berdasarkan hasil Susenas 2016, terdapat sekitar 28,93 persen penduduk Kutai Kartanegara umur 5 tahun ke atas yang masih aktif bersekolah, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2015 yang sebesar 28,67 persen. Penduduk umur 5 tahun ke atas yang tidak bersekolah lagi sebesar 65,22 persen dan yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 5,85 persen.

Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari keterampilan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal tersebut dapat digambarkan melalui jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh seseorang. Jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan merupakan persentase jumlah penduduk, baik yang tidak/belum sekolah, masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi, menurut ijazah/STTB yang dimiliki. 

Orang yang menamatkan pendidikannya sampai jenjang pendidikan yang tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan yang tinggi, sehingga akan semakin mudah mendapatkan kesempatan bekerja Pada tahun 2016, terdapat sebanyak 12,62 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas yang tidak memiliki ijasah SD. Angka ini meningkat dibanding tahun 2015 sebesar 11,36 persen. Sementara itu, jenis pendidikan yang paling dominan ditamatkan adalah jenjang pendidikan SD/sederajat yaitu sebesar 30,47 persen. Dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sangat diharapkan penduduk umur 5 – 24 tahun masih menjalani masa pendidikan yang sesuai dengan tingkatannya. Akan tetapi, dalam kenyataannya masih ada penduduk umur 15 tahun keatas yang belum atau sudah tidak bersekolah lagi (putus sekolah). Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa tidak melanjutkan sekolah, karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Selain itu, mereka beranggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula biaya yang diperlukan, sementara rumah tangga mereka miskin dan tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya sekolah. Apabila dilihat menurut jenis kelamin, alasan utama penduduk laki-laki usia 5 – 24 tahun tidak melanjutkan sekolah lagi adalah karena bekerja mencari nafkah. Sementara itu, alasan tidak ada biaya dan menikah/mengurus rumah tangga menjadi alasan utama penduduk perempuan tidak melanjutkan sekolah lagi. 

 

Oleh : Tiya Mitasari

Staf seksi neraca wilayah dan analisis statistik BPS Kutai Kartanegara

 


berita TERKAIT

baca LAINNYA