Anggota Dewan Geram dengan APMS Kujau


korankaltim
korankaltim
Koran Kaltim     1 minggu yang lalu     192 kali

TANA TIDUNG - Jumat pagi (12/1) kemarin sekira pukul 9.00 wita, Anggota DPRD, M Yunus Yakau mendatangi Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) Kujau milik Haji Wahid, lantaran banyaknya keluhan warga sekitar terkait seringnya stok APMS datang dan hanya dalam waktu dua hari saja sudah habis terjual.

Keluhan warga sekitar mengatakan bahwa APMS tidak dapat memenuhi kebutuhan warga sekitar, tapi justru melayani kebutuhan pelaku usaha dari Sekatak, Bulungan. Keluhan warga ini tentu saja membuatnya berang, pasalnya dengan jatah 70 ton BBM per 10 hari ini atau sekitar 210 ton satu bulan.

“Saya tidak suka melihat masih banyak keluhan warga sekitar yang tidak tercover sementara jatah BBM disini cukup banyak (70 Ton), jadi ini larinya kemana, yang saya dengar BBM dijual ke pelaku usaha Sekatak artinya APMS ini menjual untuk kebutuhan orang-orang yang ada diluar daerah, jadi bagaimana dengan warga Kabupaten Tana Tidung (KTT) sendiri, kalau mau menjual BBM keluar daerah sebaiknya tidak perlu beroperasi disini, kalau ini masih terjadi saya pastikan lebih baik izin beroperasinya APMS ini ditutup saja,” ujarnya kesal.

Menurutnya, kebutuhan khususnya Kecamatan Betayau saja sudah melebihi kapasitas jatah yang dimiliki oleh APMS ini meskipun APMS menjual ke pengecer-pengecer yang ada di kecamatan tersebut bahkan untuk Kecamatan Sesayap dan Sesayap Hilir yang diyakini ikut membeli BBM di APMS Kujau ini, karena harganya yang relatif murah ketimbang harga yang berlaku pada APMS Aryan di Kecamatan Sesayap.

“Memang kita akui untuk harga premium di APMS Kujau hanya Rp 6.450 perliternya dan Solar Rp 5.150 perliternya Sedangkan APMS di Sebidai Kecamatan Sesayap untuk premium harganya Rp 7500 dan Solar sekitar Rp 7 ribu perliternya akan tetapi kalau tidak dijual keluar daerah tidak mungkin dalam dua hari sudah selesai dan warga disini justru tidak kebagian,” ujarnya. 

Ia yang bertujuan datang ke APMS untuk menemui pemilik APMS, Haji Wahid, namun pemilik tidak berada ditempat sehingga ia bertambah kesal dan sangat menginginkan persoalan BBM ini wajib diketahui oleh pemiliknya. Ia menilai keberadaan APMS di KTT mulai dari APMS Aryan di Desa Sebidai dan APMS Kujau di Kecamatan Betayau ini harus dapat memenuhi kebutuhan warga KTT.

“Sampai saat ini karena banyaknya kecurangan yang dilakukan oleh oknum APMS membuat warga termasuk saya harus membeli BBM di pengecer dengan harga Rp 10 ribu per botol itu harga normal dan takaran pun tidak penuh, parahnya saat pasokan BBM kosong di APMS, pengecer akan memberlakukan harga Rp 15 ribu per botol, tentu saja kebiasaan ini memberatkan serta membebani warga KTT, pengawasan pemerintah pun terbilang minim sehingga kejadian-kejadian semacam ini tetap terulang kembali setiap waktunya, mau sampai kapan warga menjadi korban dari kebiasaan oknum yang tak bertanggung jawab dan hanya mementingkan keuntungan pribadi,” paparnya.

Ia memastikan dalam waktu beberapa hari kedepan ikut mengawasi peredaran dan pendistribusian BBM di APMS Kujau ini, bekerjasama dengan warga sekitar bila menemukan kejanggalan ia pun siap melaporkan hal tersebut langsung ke pihak berwajib termasuk kepada pemerintah. (ifa)


baca LAINNYA